Click image for larger version

Name:	topcover2.jpg
Views:	1
Size:	96.3 KB
ID:	4730


Riding Report ini dibuat untuk mendokumentasikan touring mengisi liburan tanggal 15 – 18 November 2012, yang kebetulan bertepatan dengan event JAMNAS PRIDES ke- 4 di Pacet, Mojokerto. Ingin hati mengikuti Jamnas PRIDES ke-4, tetapi sang istri tidak bisa ditinggal dan tidak tahan kalau touring terlalu jauh. Demi menyenangkan hati sang istri dan mengobati rasa penasaran saya pada Gua Pindul di Wonosari, Kab. Gunungkdiul – D.I Yogyakarta serta menikmati kuliner yang ada di wilayah Yogyakarta sampai Solo, keputusan pun diambil untuk touring pada liburan tanggal 15 – 18 November 2012. Tujuan kami antara lain : Kota Yogyakarta, Wonosari (Kab. Gunungkidul), dan Kota Solo.



Chapter I

Preparation

Touring kali ini sudah saya persiapkan dari H-10 keberangkatan, yaitu tanggal 5 November 2012. Saya dan istri mulai mengumpulkan informasi terkait dengan keberangkatan dan akomodasi kami selama di Yogyakarta dan Solo. Browsing mulai dari hotel dan tempat wisata kuliner yang belum pernah kami kunjungi di Yogyakarta dan Solo, informasi mengenai objek wisata Gua Pindul di Wonosari, sampai rute-rute alternatif dari Wonosari langsung menuju ke Solo via Kab. Sukoharjo.

Alhasil, semua hotel di wilayah pusat Kota Yogyakarta sudah penuh, padahal masih H-10, termasuk hotel langganan saya bila sedang pergi ke Yogyakarta, sungguh kota yang diidam-idamkan oleh para penikmat wisata di tanah air. Setelah beberapa saat, akhirnya menemukan hotel murah meriah tidak terlalu mewah yang cukup untuk transit dan bermalam di Yogyakarta. Lain halnya dengan di Solo, kami juga mempunyai hotel langganan. Begitu saya telepon dan booking, tampat masih ada, dan harganya pun tidak mahal, dilihat dari fasilitas yang diberikan. Setelah semuanya siap, saya mulai menservis si crimsonwolf. Firing custom dicopot (ada project modifikasi baru lagi, hehe), ganti oli, servis ringan, kontrol kaki-kaki si crimsonwolf dan membersihkan mesin dari sisa oli yang menempel di mesin karena dulu sempat dipasang firing custom. Perjalanan pun siap dimulai dengan rute : Kota Semarang – Kota Yogyakarta – Kab. Gunungkidul – Kab. Sukoharjo – Kota Solo (Surakarta) – Kota Semarang.

Rute yang kami lalui :

Rute Semarang ke D.I Yogyakarta


Rute Situs Sejarah Tamansari ke The House of Raminten


Rute The House of Raminten ke Hotel di Jalan Veteran, Umbulharjo


Rute Hotel di Jalan Veteran ke Gua Pindul, Wonosari


Rute Wonosari ke Solo via Kabupaten Sukoharjo


Rute dari Solo ke Semarang

CHAPTER II

Day One : From Ki Ageng Pandanaran to Sri Sultan Hamengkubuwono

Malam sebelum keberangkatan, kami mulai packing barang bawaan selama touring. Mulai dari pakaian ganti, rain gear, dan riding gear. Istri saya mulai packing semua pakaiannya termasuk pakaian saya selama touring, sedangkan saya mempersiapkan riding gear pribadi yang akan saya bawa, mulai dari helm dualsport (thanx to bro erlangga27), tankbag, protektor kaki, sepatu boot, jaket touring hingga rain gear, mengingat sudah mulai masuk musim penghujan.

Perlengakapan lenong

Pagi harinya, setelah menunaikan ibadah sholat subuh dan sarapan, kami mulai bersiap untuk start. Diputuskan untuk start pukul 05.30 WIB, mengingat kondisi jalan ke arah selatan, bila terlalu siang akan terjadi kemacetan karena long weekend.

nampang dulu sebelum start

Start dari rumah di wilayah Semarang Timur menuju ke arah selatan Kota Semarang via jalan Majapahit , belok ke kiri : jalan Lamper Tengah dan ke arah Pasar Kambing. Terus naik sampai Tembalang dan akhirnya Batas Kota Semarang di Pudak Payung. Memasuki wilayah Ungaran, ibukota Kab. Semarang, lalin terpantau sepi dan lancar. Si crimsonwolf saya pacu sampai 80 kpj saja, karena ada beberapa titik terpantau agak ramai.

Setalah pasar Karang Jati, saya meutuskan untuk mengambil jalan tembus via Gembol dan tembus sebelum pasar Ambarawa, cukup menghemat beberapa kilometer. Awalnya saya akan mengambil jalan lingkar Ambarawa, karena menghindari pasar Ambarawa yang semakin ramai dan padat, selain itu pemandangan di jalan lingkar bagus. Niat pun diurungkan, mengingat waktu yang di capai akan semakin lama, sedangkan saya dan istri akan “menjelajah” kuliner siang hari di Kota Yogyakarta. Lanjut ke arah pasar Ambarawa, meskipun padat merayap dan penuh sesak. Setelah berjibaku dengan para pedagang yang berseliweran di area pasar Ambarawa, saya memutuskan untuk mempercepat laju motor, dan kebetulan jalan sepi sekali, hanya beberapa motor dan angkutan umum saja. Tikungan demi tikungan di wilayah Jambu sampai Pringsurat bisa teratasi dengan “mereng-mereng”. Istri saya pun tidak protes, sepertinya juga menikmati sensasi berkendara mereng-mereng. Hingga kebun teh dan cocoa Banaran lalin agak tersendat karena ada truck yang tidak kuat menanjak dan terjadi antrian panjang dibelakangnya. Rata-rata mobil plat H yang berniat menghabiskan akhir pekan panjangnya di daerah Selatan.

Memasuki Kab. Magelang, di terminal Secang masih saja sepi, hanya didominasi beberapa angkutan kota yang hilir mudik mengangkut warga sekitar. Sampai Kota Magelang pun masih sepi dan aman terkendali, hingga akhirnya ada request dari pillion (boncenger) saya untuk mampir ke SPBU untuk beristirahat sekalian buang air kecil. Sesampainya di SPBU dekat New Armada perbatasan Kota Magelang – Kab. Magelang, saya mampir sebentar untuk menuruti request sang istri yang ingin buang air kecil, sekalian beliin crimsonwolf sirup biru dulu. Setelah semua urusan selesai, kami gas lagi menuju Yogyakarta yang sudah di depan mata.

Tak lama tarik gas dan berjibaku dengan kendaran-kendaran yang akan menuju Yogyakarta, akhirnya tepat pada pukul 08.30 WIB kami sampai ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cuaca berawan tidak hujan, alhamdulillah tidak ada halangan saat berkendara dari Semarang ke Yogyakarta.

Tujuan pertama kami di Yogyakarta adalah ke Tamansari yang merupakan salah satu petilasan raja-raja Mataram. Karena saya dan istri belum perah kesana sama sekali, padahal saya sudah sering sekali mengunjungi Yogyakarta. Setelah sampai di tempat, kami parker motor dan menitipkan barang-barang kami pada penjaga parkir dan masuk ke area Tamansari. Melihat-lihat situ bersejarah petilasan kerajaan Mataram di zaman pertama kali masuknya ajaran Islam di tanah Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono.

Di Tamansari ini kami ditemani oleh seorang pemandu wisata yang menjelaskan sejarah dibangunnya Tamansari sebagai tempat pesanggrahan bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Kami sempatkan untuk beberapa kali mengambil foto sekedar dijadikan “barang bukti” kalau kami pernah ke Tamansari. Sempat menghubungi beberapa rekan Pulsar Community Korwil Yogyakarta, suhu uler keket tidak bisa menemui kami karena ada acara yang belum bisa ditinggalkan, tak apalah, kami hanya mengabari saja kepada sang penguasa wilayah, tidak untuk merepotkan.









Hari semakin siang, kami pun memutuskan untuk mengakhiri pelajran sejarah kami bersama di Tamansari. Setelah memberikan tip sekedar uang lelah kepada sang guide, kami beranjak untuk memulai sesi pertama wisata kuliner di Yogyakarta.

The House of Raminten menjadi pilihan kami, rumah makan yang sedikit unik dengan nuansa Jawa banget dan menu masakan yang tidak jauh-jauh dari kata “Yogyakarta”. Menu yang ditawarkan antara lain gudeg Djogja, nasi kucing (nasi angkringan), selat khas Yogyakarta dan beberapa minuman khas Yogya dan varian jus buah. Yang membuat menarik dari resto ini adalah pelayannya yang mengenakan pakaian Jawa khas Yogyakarta. Selain itu ada beberapa pesan unik dan nyentrik yang ditempel di tembok resto.

Gudeg Djogja ala The House of Raminten

Selesai dengan urusan perut, kami memutusan untuk check in di hotel yang sudah kami booking sebelumnya di daerah Umbulharjo. Hotel murah yang lumayan untuk tempat transit dan bermalam sementara. Sesampainya di hotel, kami bersih-bersih dan beristirahat, karena malamnya akan lanjut jalan-jalan menijmati kota Yogyakarta di malam hari.

Sekitar pukul 15.30 WIB, saya dibangunkan oleh istri untuk siap-siap jalan-jalan, dimulai dengan jogging sore, begitu istri saya menyebut nge-mall. Tujuan pertama di Galeria Yogyakarta yang terletak di ujung jalan Prof. Dr. Yohanes yang terkenal dengan sebutan jalan Sagan. Setelah selesai ngemall bersama istri, tujuan kedua adalah Bakmi dan Bajigur KADIN yang terletak di daerah Bintaran. Sempat janjian dengan salah seorang teman lama dari bangku SMP hingga SMA (satu kelas terus…), seorang penulis buku “Travelicious : Semarang dan Karimunjawa”.

Kami pun tiba di tempat yang kami tuju yaitu Bakmi dan Bajigur KADIN, termpat makan ini sudah sangat terkanal. Sehingga semakin lama tempat ini semakin ramai dikunjungi. Makan mie Jawa ditemani minuman hangat bajigur serta lantunan musik keroncong, sungguh paduan yang nikmat sekali.



Mie Jawa KADIN, mesennya 1 jam lebih, kandas dalam 15 menit



Band keroncong di Bakmie KADIN

Setelah semuanya selesai, kami pulang ke hotel untuk beristirahat dan melanjutkan perjalan ke Wonosari keesokan paginya.

CHAPTER III

Day Two : The Amazing Gunungkidul – Solo The Spirit of Java

Tepat pukul 04.00 WIB alarm di HP jadul saya berdering. Tandanya untuk beranjak dari tempat tidur, ambil air wudhu, sholat berjamaah dengan istri.

Hari yang kami nanti-nantikan telah tiba, riding ke Wonosari tempat Gua Pindul yang merupakan salah satu ikon wisata alam di Kabupaten Gunungkidul. Perlengkapan riding semua siap, tapi kami harus mencari warung makan terlebih dahulu untuk sarapan, karena kami check out sebelum hotel menyiapkan sarapan pagi. Diputuskan untuk start pukul 05.45 WIB. Tujuan mencari sarapan terlebih dahulu dan melanjutkan riding ke Wonosari.

Saya sempat mencari rekomendasi sarapan yang maknyus di sekitaran Umbulharjo. Tahu Kupat (Ketupat) Pak Budi yang sudah ada sejak tahun 1957, merupakan salah satu warung tahu kupat yang terkenal di Yogyakarta.

Warung Tahu Kupat Pak Budi terletak tidak jauh dari penginapan kami, masih di wilayah Umbulharjo.

Tiba di warung tahu kupat, kami langsung memesan 2 porsi tahu kupat dan 2 gelas the manis hangat, untuk mengganjal perut di pagi hari agar tidak masuk angin sesampainya di Gua Pindul.

Irisan ketupat, tahu, tempe bacem dipadu dengan telur dan sayuran, serta bumbu kacang yang menggugah selera. Prinsipnya sama seperti tahu kupat yang ada di Kota Magelang, tetapi tahu kupat Pak Budi ini cenderung manis dam lembut bumbunya, tidak setajam tahu ketupat yang ada di Kota Magelang, mungkin cocok untuk orang yang tidak terlalu suka dengan bumbu yang terlalu “berani”.







Dengan harga yang bersahabat





Setelah selesai sarapan, kami pun bergegas untuk mulai riding ke Wonosari. Perjalanan dengan jarak kira-kira 37 km, dengan track pegunungan sudah menanti kami dari kejauhan. Wonosari…here we come!!!

Keluar dari wilayah Umbulharjo lalin sudah cukup ramai, didominasi oleh anak-anak sekolah yang sudah mulai beraktivitas lagi, karena sebagian anak sekolah di Yogyakarta tidak libur pada hari Jumat 16 November 2012. Setelah membelah ring road selatan, kami belok ke arah Jalan Raya Wonosari. Jalan yang ramai lancar dengan udara yng sejuk membuat mood riding kembali naik.

Setelah beberapa menit kami riding di track lurus tanpa tantangan, sampailah kami di track menanjak dan berkelok, daerah itu disebut dengan Patuk-Piyungan. Jalan menanjak, tikungan tajam, kanan kiri pemandangan kota Yogyakarta dari atas dan bus ekonomi yang terkentut-kentut mendaki jalan. Keadaan memaksa kami berjibaku dibawah terpaan asap bus yang hitam. Satu persatu bus yang menghadang di depan sudah bisa teratasi, sekarang gilirannya mereng-mereng lagi. Jalan dengan kontur yang rata, aspal yang bagus membuat tangan ini gatal untuk menambah kecepatan; ditambah lagi dengan udara yang masih segar.

Satu jam lamanya kami riding di jalur Yogyakarta – Wonosari, sampailah kami di tempat yang sudah ditentukan oleh punggawa agrowisata Wira Wisata yang terletak di desa Bejiharjo, Wonosari. Sebelumnya saya telah menghubungi beliau via BBM dan menyepakati akan menjemput saya di alun-alaun depan Gedung DPRD Kab. Gunungkidul. Tak lama kemudian, muncul seorang berkendara bebek Jupiter menghampiri saya dan menyampaikan bahwa beliau ini adalah utusan dari sang punggawa Wira Wisata dengan misi menjemput saya. Perjalanan kurang lebih 8 km kearah desa Berjiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Gua Pindul merupakan gua yang terbentuk dari gugusan kapur dan dibawahnya mengalir sungai. Aktivitas menyusuri sungai dibawah gua disebut cave tubing yang akhir-akhir ini marak di Indonesia. Gua Pindul sudah beroperasi sejak tahun 2010 lalu, tetapi penelitan dan pengembangannya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu dan akhirnya dijadikan tempat wisata andalan Kab. Gunungkidul selain wisata pantainya yang eksotis.

Tak lama kemudian, sampailah kami di desa Bejiharjo. Pusat semua aktivitas pariwisata yang berkaitan dengan Gua Pindul dan tube-rafting Sungai Oyo. Sesampainya di Sekretariat Wira Wisata, kami mendaftar untuk paket penelusuran Gua Pindul (cave tubing) dengan harga Rp 25.000,- per orang, dan bila ingin ditambah dengan dokumentasi harus menambah Rp 80.000,- per paket. Bagi mereka yang mempunyai kamera canggih tidak harus mengambil pake dokumentasi, tetapi bagi saya yang hanya bermodalkan HP berkamera 8 mpix harus mengambil paket dokumentasi, karena sangat disayangkan sudah sampai gua Pindul tetapi tidak ada dokumentasinya.

Penelusuran gua dimulai, kami ditemani seorang guide dan seorang fotografer untuk memulai penelusuran gua. Penulusaran memakan waktu 30 menit apabila jalur padat, tetapi kami termasuk paling awal datang dan mendapat jatah waktu selama 1 jam lebih; karena belum ramai pengunjung.

Sang guide menerangkan bahwa gua PIndul terbagi menjadi 3 zona, yaitu zona terang, zona remang-remang dan zona gelap abadi dimana zona ini tidak pernah tersentuh oleh sinar matahari dari luar. Selain itu, sang guide juga menjelaskan sejarah terbentuknya gua sampai dengan sekarang. Masih ada petilasan ruang semedi (meditasi) untuk raja mataram di dalam gua ini. Sedikit spooky yang saya rasakan, tapi apa salahnya dicoba. Stalaktit dan stalakmit menemani perjalan kami menyusuri gua, tidak hanya itu, kelelawar buah (Jawa: codot) juga hilir mudik diatas kepala kami. Sempat tercium bau guano tetapi tidak menyengat. Dan dindinding gua juga terpahat cakaran-cakaran kelelawar yang sudah tinggal disana sejak terbentuknya gua Pindul, kira-kira beratus-ratus tahun yang lalu.

Diakhir perjalan, kami disuguhi oleh pemandangan yang menakjubkan. Atab gua Pindul yang terbuka. Lobang besar yang terdapat diatas gua Pindul menjadi pemandangan yang sempat membuat saya mengucap “subhanallah..” . Begitu agung dan indah ciptaanNya. Kami sempat berhenti sejenak untuk mengambil foto dibawah lubang tersebut dan juga memanjat dinding gua untuk melihat lebih dekat batu Kristal yang terbentuk dari sari tumbuhan diatas gua yang bercampur dengan air tanah.

Penelusuran pun selesai. Kami dijemput dengan mobil bak terbuka untuk kembali ke Sekretariat Wira Wisata. Sesampainya disana kami disambut dengan teh manis hangat yang disediakan oleh pengelola, sekedar menghangatkan badan. Setelah badan hangat, kami mulai berbenah diri untuk melanjutkan riding ke Solo.

Suasana di Sekretariat Wira Wisata Gua Pindul























Terdengar dari jauh suara khas serigala…zwing…zwing…ternyata 3 serigala Pulsarian Tangerang tiba di gua Pindul. Om Mufid, om Faisal, dan om Tendy ternyata. Kami bertemu dan saling berjabat tangan, ternyata ada cara Pulsarian di Yogyakarta, tetapi beliau-beliau ini menyempatkan untuk numpang mandi di Gua Pindul, karena sejak kamis pukul 02.00 dini hari sampai jumat pukul 09.30 WIB mereka belum mandi. Tetapi sangat disayangkan, om-om dari Pulsarian Tangerang ini harus mengantri panjang sekali demi numpang mandi di dalam gua Pindul.

Selesai berbenah kami memutuskan untuk makan bakso di dekat Sekretariat, semangkok bakso membuat perut ini hangat kembali dan siap untuk riding blusukan ke arah Solo via Kab. Sukoharjo.









Bersama bro-bro Pulsarian Tangerang
kiri ke kanan : Om Tendy, Om Faisal, Om Mufid sang juragan Griya Bikers, dan blogger-nya

Makan selesai, pasang perlengkapan lenong selesai, pamitan dengan para serigala Tangerang. Lanjut pelintir gas menuju Semin melewati hutan jabon (jati kebon) dan tembus di Jalan Raya Semin. Kontur jalan yang bagus dengan pemandangan yang indah membuat saya tidak sadarkan diri, speedometer menunjukan angka 90 kpj. Karena tikungan demi tikungan saya merengi dengan sukses, istri saya pun kembali tidak protes. Tetapi saya haru mengurani kecepatan, karena saya benar-benar ingin menikmati pemandangan disekitar jalan tersebut. Tidak terasa jam tangan saya sudah menunjukan pukul 11.30 WIB, dan adzan sholat jumat telah berkumandang samar-samar. Terpaksa gas dipelintir lagi sampai 80 kpj. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kab. Sukoharjo, kami kembali lagi ke Provinsi Jawa Tengah. Memasuki desa Tawangsari, kontur jalan berubah drastis dari aspal halus menjadi aspal ngelupas. Kecepatan pun turun drastis, saya Cuma berani sampai 40 kpj saja, karena guncangan-guncangan membuat istri saya tidak nyaman di jog belakang.

Setelah sekian lama berjibaku dengan keadaan jalan yang kurang bagus, kami pun telah sampai di Kabupaten Sukoharjo dengan ditandai dengan pabrik Sritex yang terkenal spesialis perajut baju-baju tentara dari sebagian besar negara di Eropa dan Amerika. Motor kembali saya pacu untuk mencari masjid yang sekiranya dekat dengan tujuankami di Solo. Akhirnya Masjid Al Makmur di wilayah Solo Baru menjadi pilihan saya untuk beristirahat dan melaksanakan sholat Jumat berjamaah.

Segarnya air wudhu dan khidmatnya siding jemaat membuat kantuk mulai menyerang. Setelah selesai sholat jumat dan bersikeras untuk membuka mata, kami melanjutkan perjalanan ke Jalan Dr. Radjiman. Langit Solo yang mendung mengiringi kami.

Si crimsonwolf mejeng di depan hotel di Solo

Sesampainya di Hotel, kami langsung check in ke kamar sesuai dengan pesanan kami. Begitu kamar dibuka, langsung rebahan sebentar dan berniat untuk keluar makan mencoba kuliner Selat (salad) Solo yang terkenal, Selat Solo Vien’s, serta memanjakan istri untuk belanja beberapa kemeja batik di Pusat Grosir Solo (PGS).

Tidak disangka, Solo diterpa hujan deras ditambah dengan angin, agenda kami ditambah dengan kopcol dengan o,m ILyas_kids sang kuncen Chapter Solo dan om hansip badcop juga terancam batal.

Melihat istri saya menahan lapar dengan wajah bête, saya putuskan untuk wisata kuliner dengan menggunakan taksi, karena hujan terlalu deras.

Kami meluncur ke rumah makan Selat Solo Vien’s yang terkenal spesialis pembuat selat Solo. Hidangan khas Solo paduan antara sayuran dan daging membuat siap saja yang melihat akan kepincut.

Selsai dengan wisata kuliner sesi pertama di Solo, kami melanjutkan ke PGS untuk belanja batik. Sebenarnya saya sudah sangat lelah untuk berjalan-jalan, tetapi demi menyenangkan hati istri, okelah ne pas de problieme.

Selat Solo ala Vien’s Resto



Kuliner sudah dinikmati, batik sudah didapat, kembali ke hotel lagi. Sebelum ke hotel, mampir dulu ke mini market untuk membeli camilan dan sebungkus rokok untuk persediaan. Rencananya, pada malam hari di Solo akan menikmati kembaloi malam-malan di kota Solo seperti dahulu, tetapi apa mau dikata, malam itu kota Solo diguyur hujan deras yang membuat saya dan istri hanya bisa melihat hujan dari balik jendela kamar hotel. Ya sudahlah, disuruh istriahat mungkin.

Kami memutuskan untuk di hotel saja sambil menonton acara TV kabel yang disediakan hotel sambil menikmati camlian kami.

CHAPTER IV
Day Three : Back to The Atlas City, Back to The Reality

Setelah kekecewaan hati semalam, pagi harinya setelah menunaikan ibadah solat subuh kami tetap tinggal dihotel untuk beberapa jam. Kembali saya membuka jendela hotel, dan lagi, hujan kembali turun dipagi hari meskipun gerimis. Ingin hati memanjakan diri dengan riding pagi-pagi disekitaran hotel, tetapi apa boleh dikata, hujan turun kembali. Ya sudah tarik selimut dan tidur lagi.

Alarm dari HP jadul kembali berbunyi nyaring, membangunkan saya dari tidur pagi yang menyenangkan. Istri kembali berbenah untuk check out dari hotel, saya pun tak lupa memeriksa cuaca diluar, dan terang benderang dengan sinar matahari yang cukup terik

Selesai berbenah dan mandi, kami turun ke lobby hotel untuk sarapan meskipun sudah terlambat dan check out. Tankbag dipasang, riding gears sudah dipasang, dan gas berangkat menuju ke Semarang. Cuaca di Solo pagi itu lumayan cerah, sedikit mendung menggelayut di langit sebelah utara, pertanda tidak akan lama lagi akan turun hujan. Lalu lintas di sekitaran Laweyan sudah mulai ramai, mengingat Walikota Surakarta (Solo) telah menjadwalkan acara malam pergantian Tahun Hijriyah dari hari Rabu malam hingga Minggu pagi. Gas kembali saya pelintir, cukup 60 kpj saja saya berkendara, menikmati ramainya Kota Solo di pagi hari.

Beberapa saat kemudian, kami memasuki Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di Kota Solo. Jalanan didominasi kendaraan besar yang hilir mudik. Arah ke Boyolali sampai Semarang terpantau rame lancar dengan cuaca yang cerah serta sedikti mendung yang menggelayut di langit sebelah utara.
Seperti biasa kami menyempatkan mampir di Indomaret untuk membeli persedian air minum dan cemilan, maklum istri saya suka nyemil walaupun sedang touring

Terlihat 4 serigala berplat nomor H melintas di depan Indomaret tempat saya berhenti. Terlihat identitas Pulsar Community di selebor belakang 3 Pulsar dan seekor Vario. Wah, temen PC baru pulang dari Karanganyar setelah mengikuti acara Jambore Bajaj Indonesia.
Setelah semuanya beres, kami melanjutkan riding menuju Kabupaten Boyolali. Langit mulai gelap dan angin pun berhembus sedikit lebih kentjang. Kami terus riding sampai tiba di Kota Salatiga. Cuaca belum berubah, lalu lintas Kota Salatiga ramai lancar karena banyak kendaraaan yang hilir mudik ke arah Solo maupun sebaliknya.
Gas terus sampai keluar Kota Salatiga menuju daerah Tuntang, Kab. Semarang. Hujan rintik-rintik mulai turun, bau khas tanah basah sudah tercium, pertanda hujan sudah dekat. Siap-siap mengeluarkan rain gears. Rencana kami akan berhenti sejenak di Banaran Coffee Shop untuk istirahat dan menunaikan ibadah sholat dhuhur. Belum sampai memarkirkan si crimsonwolf, hujan turun dengan derasnya. Kami pun berlari masuk ke coffee shop dan syukurnya masih ada meja yang tersisa, karena coffee shop terlihat ramai; ternyata ada pertemuan teman-teman dari Corolla DX Community disana, ditambah dengan ada acara otomotif di Wonderland Salatiga yang melibatkan komunitas mobil, membuat Banaran coffee shop mendadak jadi ramai pengunjung.

Hujan-hujan begini enaknya makan yang anget-anget dan berkuah, dipesanlah mie Jawa khas Banaran dan 2 cangkir teh hangat. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan kembali riding kami ke Kota Semarang, hujan masih rintik-rintik tapi kami berusaha terus untuk riding.
Tak lama kemudian, terlihat di spion anggota PC dengan nomor registrasi anggota 164, menyusul 052 (om pittoe) yang mengendarai Vario, dan 001 Pakketu PC om Nunung Nuvan. Salam toet toet dulu
Solo riding menjadi group riding, dengan RC om pittoe. Tetapi tak bertahan lama, memasuki area Bawen lalu lintas mulai padat merayap, barisan pun bubar
Saya masih bertahan di belakang PC#001 yang masih menunggu PC#162 yang masih tertinggal dibelakang. Sampai Ungaran hujan reda, dan gas terus sampai ke Semarang.

Ternyata sampai di Jatingaleh, hujan kembali turun, mendung tebal menggelayut diatas langit Kota Semarang. Terpaksa memelintir gas lagi dengan harapan tidak kehujanan sampai dirumah yang masih 15 km lagi. Gas terus melalui jalan Dr. Wahidin dan menukik ke kanan area Pasar Kambing (jl. Tentara Pelajar). Lanjut melaewati lamper tengah dan bressss….. hujan deras.

Gas terus meskipun basah kuyup tidak sempat mengenakan rain gear. Akhirnya hujan reda di daerah Pedurungan. Lanjut gas 3 km lagi sampai dirumah. Sampai dirumah dengan selamat, basah kuyup dan crimsonwolf juga kotor
Bersih-bersih, dan santai dulu sambil ngetik RR
Dari touring kembali ke kehidupan nyata yang penuh dengan tantangan dan rintangan, tetep sehat , tetap semangat, agar bisa wisata kuliner lagi.

Demikian RR sederhana saya ini, mudah-mudahan bisa menghibur.
[I]*Hanya ingin membuktikan bahwa malam 1 Suro atau 1 Muharam tidak seseram yang diceritakan dalam masyarakat Jawa. Dalam mitosnya, apabila seseorang menyelenggarakan hajatan tepat pada tanggal 1 Suro atau di Bulan Suro (Muharam) makan akan mengalami balak (dalam bahasa Jawa disebut malat, kuwalat). Dan saya buktikan mitos itu, alhamdulillah saya dan istri kembali ke rumah dengan selamat dan tidak terjadi apapun, bukannya khilaf atau takabur, tapi hanya membuktikan sendiri untuk diri saya dan keluarga. Itulah mengapa saya tulis ”Finding The Truth” dalam judul RR diatas.

Semoga berkenan dan tidak ada unsur SARA dalam penulisan RR ini. Mohon maaf apabila RR vol. 3 ini tidak ada foto, karena cuaca yang tidak mendukung untuk pengambilan foto, maklum saja saya hanya modal kamera dari HP
Sebagai gantinya, video aja ya


Thanx to :
– Allah SWT, atas berkah, rahmat dan perlindungan-Nya selama kami touring
– Rosulullah SAW, suri tauladan kami
– Orang tua kami, untuk doa yang selalu mengiringi perjalanan kami
– Istriku tercinta Irma Laila Safitri yang selalu setia menemani kemanapun saya berkendara
– Sodara2 PRIDES Chapter SEMAWIS, Pulsar Community Semarang dan semua PRIDERIAN di dunia…terima kasih untuk inspirasinya
– Om Mufid, om Faisal, dan om Tendy (Pulsarian Tangerang), nice to meet you bro


TOTAL PERJALAN PERGI – PULANG = 544,7 Km