Menikmati Bromo dari 2900 mdpl




Perjalanan ini adalah trip lanjutan dari perjalanan saya ke Jamnas Prides ke 8 ‘Wolu Seru’ di Madiun pada bulan Agustus 2016. Jadi ceritanya setelah dari Jamnas saya tidak langsung pulang ke Jakarta, tapi saya ingin mengunjungi kampung halamàn ibu saya di Lumajang. Kebetulan Lebaran kemarin saya tidak ikut mudik bersama keluarga, jadi saya pikir ini adalah kesempatan saya untuk mudik karena mumpung sudah di Jawa timur dan kebetulan cuti saya masih panjang.

Dari Lokasi Jamnas, Saya meneruskan perjalanan ke Batu, Malang dengan santai. Iseng2 lewat Kediri karena pengen lewat simpang lima Gumul. Saya inget beberapa tahun lalu di perjalanan pertama saya ke Bromo saya lewat situ dan terkejut dan terkagum2 ketika menemukan ada bangunan seperti Arch de triumph di Paris di sebuah kota di Jawa


Arc de Triomphe van Java


Sekitar sore hari, saya sampai di rumah adik saya di daerah Batu, Malang. Malam itu saya menginap di tempat adik saya sebelum meneruskan perjalanan ke Lumajang esok paginya.
Keesokan paginya sekitar jam 7, saya berangkat ke Lumajang melalui jalur selatan Malang via Dampit-Pronojiwo-Pasirian dan Lumajang. Suasana lalu lintas pagi itu lumayan lenggang. setelah Dampit , masuk daerah Pronojiwo jalanan mulai berkelok2 dan naik turun karena memang daerahnya dekat dengan Gn. Semeru. Dari sini kita bisa melihat dengan jelas Gunung Semeru berdiri dengan gagah di sebelah kiri jalan.


si hitam terpaku memandang Semeru


Di daerah Pronojiwo ini sebenernya ada obyek wisata yg akhir2 ini sedang cukup populer di bahas di dunia maya, yaitu Coban/Tumpak Sewu, yg merupakan jejeran air terjun yg terletak di sebuah lembah dengan pemandangan yg cukup fantastis. Sebenarnya saya sangat tertarik dan penasaran untuk mengunjungi tempatnya, tetapi berhubung kata adik saya yg sudah pernah kesana, lokasinya masih sangat susah dijangkau dan jalur trekingnya sedikit ekstrim, maka saya yg sadar bahwa kondisi fisik saya tidak primapun mengurungkan niat untuk mengunjungi Tumpak Sewu


Coban/Tumpak Sewu. (gambar diambil dari sini)


Coban/Tumpak Sewu. (gambar diambil dari sini) Melewati Pronojiwo, jalan semakin naik turun dan berkelok-kelok. Saya melewati satu jembatan besar dengan pemandangan yg lumayan bagusyg biasa disebut Jembatan Piket No. Saya sempatkan berhenti sejenak di sisi jembatanuntuk sekedar istirahat.kebetulan ada beberapa warung disitu jadi saya bisa sekalian ngemil2 sambil menikmati pemandangan. Menikmati segelas teh hangat ditemani oleh tahu petis hangat sambil memandangi pepohonan hijau dan bekas aliran lahar di bawah jembatan mengingatkan saya bahwa terkadang bahagia itu begitu sederhana.


Jembatan Piket Nol


Setelah cukup beristirahat, sayapun melanjutkan perjalanan. dari Piket nol, saya masuk ke daerah Pasirian yg terkenal sebagai daerah penambangan pasir di pantai selatan Lumajang. Daerah ini sempat menjadi berita bbrp waktu lalu karena kasus Salim Kancil (seorang warga desa yg menjadi korban pembunuhan oleh ‘mafia’ penambangan pasir karena memprotes penambangan pasir di desanya). saya juga sempat melewati Gapura desa Selok Awar-awar yg merupakan desa dari Salim kancil dan tempat kejadian kasus Salim Kancil.

Sekitar habis zuhur, akhirnya saya sampai di Lumajang, kota kelahiran ibunda tercinta. Di Lumajang ini masih ada kakek saya dari ibu dan banyak saudara2 dari ibu saya. Jadi saya kesini memang untuk bersilaturrahmi dengan keluarga besar dari ibu.


kampung halaman tercinta


Selain untuk bersilaturrahmi, alasan lain saya datang kesini adalah karena saya ingin mengunjungi Bromo.... what, Bromo lagi? Well, bukan bener2 di Bromonya karena bbrp hari lalu saya sudah ke Bromo. Tempat yg saya ingin kunjungi ini adalah B29... what, pabrik sabun colek?? Bukanjuga... Puncak B 29 yg saya maksud, yg merupakan tujuan wisata yg cukup populer dalam bbrp tahun terakhir ini, adalah daerah perbukitan di sisi Gunung Bromo. Sama seperti Puncak Pananjakan yg berada disisi lain Bromo, B29 menyajikan pemandangan Gunung Bromo dan lembah di sekelilingnya.
Nama B29 sendiri berasal dari huruf ‘B’ yang berarti Bromo, dan angka ‘29’ yg mengacu pada 2900 meter yaitu ketinggian bukit ini. Gunung Bromo sendiri mempunyai tinggi sekitar 2.300 meter, jadi puncak B29 ini posisinya lebih tinggi dari Gunung Bromo sehingga pemandangan yg disajikan dari atas puncak B29 ini cukup luar biasa. Kebetulan B29 ini letaknya tidak jauh dari Kota Lumajang, hanya berjarak sekitar 40 km. Rencananya saya akan mengunjungi B29 besok pagi.Karena hari ini saya akan gunakan untuk bersilaturrahmi dengan keluarga2 saya.

Keesokan paginya saya bersiap2 untuk berangkat ke B29. Sebelum berangkat saya sempatkan untuk mencari sarapan. Pilihan jatuh kepada makanan khas jawa timur yg saya sangat suka yaitu nasi rawon. Di dekat rumah ‘bayai’ ,begitu biasa saya memanggil kakek saya, ada warung nasi rawon yg cukup terkenal, namanya warung nyai katun. Warung ini sudah ada sejak aku kecil, jadi sudah sekitar 30 tahun lebih. Dari dulu setiap keluarga saya pulang kampung pasti kita tidak lupa mampir ke warung ini. Saya memesan nasi rawon plus paru goreng. Yang unik tentang rawon nyai katun ini adalah rasanya yg tidak terlalu kuat seperti rawon pada umumnya. Ini dikarenakan rawon ini tidak memakai salah satu bumbu utama rawon yaitu kluwek. Sebenernya aneh juga masakan rawon tapi tidak pake kluwek dan rasanya pun saya bilang jadi lebih mirip gulai. Tapi penjualnya menyebutnya rawon serta rasanya enak dan saya suka! Jadi saya gak akan protes… hehehe


rawon Nyai Katun


Kelar sarapan sayapun siap2 berangkat dan tidak lupa berpamitan kepada para keluarga. Rencananya dari B29 saya akan langsung menuju Malang untuk kembali menginap ditempat adik saya sebelum lanjut pulang ke Jakarta.

Setelah berpamitan, sekitar jam 7 sayapun berangkat ke B29. Setelah Alun2, saya terus melaju kearah Senduro. Cuaca pagi itu yg cukup cerah membuat saya bersyukur karena pasti akan membuat perjalanan saya lebih mudah dan menyenangkan. Kebetulan saya sudah membaca bbrp RR tentang perjalanan ke B29 di POL lama yg menceritakan bahwa jalur ke puncak B29 di bbrp bagian cukup menantang dengan tanjakan2 curam dan jalan tanah yg tidak beraspal. Kondisi jalan menjadi jauh lebih menantang jika turun hujan karena sebagian jalan masih tanah merah yg pastinya sangat licin dan berat dalam kondisi basah. Saya teringat RR nya Cak Salum dan Om Suyut (kalo gak salah) yg menggambarkan betapa beratnya perjuangan mengendarai motor ke atas dalam kondisi hujan/basah. Saya gak kebayang kalo harus menghadapi situasi itu sendirian… amit2, jangan sampee…


jalur menuju Senduro yang sepi pagi itu


Sekitar 30 menitan dari kota Lumajang, jalan mulai menanjak dan saya melewati Pura Mandara Giri Semeru Agung yang merupakan tempat ibadah umat Hindu dan juga salah satu Pura terbesar di Jawa. Saya sebenernya penasaran ingin melihat2, tapi sepertinya tempatnya masih tutup sehingga saya pun melanjutkan perjalanan. Melewati Pura, saya melihat awan hitam bergelayut di langit. Cuaca yg tadinya cerah berganti mendung. Saya sedikit was-was sambil berdoa dalam hati mudah2an tidak turun hujan dan hari menjadi cerah kembali.
Sekitar setengah jam melewati Pura, jalan mulai sedikit berkelok2. Mendung masih tetap menggelayut dan gerimis pun mulai turun. Saya tetap melanjutkan perjalanan sambil berharap gerimis segera berhenti dan berganti terang. Rumah2 di sisi jalan digantikan oleh pohon2 dan perbukitan. Setelah beberapa lama riding, akhirnya gerimis pun berhenti… digantikan hujan yang cukup lebat! OH NOOOOO….. Akhirnya yg saya takutkan pun terjadi…


hujan pun mulai turun


Saya pun segera menepikan motor ke warung yang ada dipinggir jalan untuk berteduh. Sayapun memesan the hangat sambil tanya2 ke pemilik warung tentang B29 yg menurut informasinya masih sekitar 1 jam an lagi.
Disaat saya lagi menikmati teh hangat, datang dua orang anak muda mengendarai motor. Mereka mengaku penduduk setempat yg biasa mengojek para wisatawan yg ingin ke B29. Kami ngobrol2 dan dan saya bertanya2 tentang medan yg akan dilalui menuju puncak. Mereka memberitahu bahwa walaupun hujan begini biasanya di atas puncaknya malah cerah alias tidak hujan. Tetapi mereka bilang bahwa jalan menuju puncak akan jadi sangat berat karena hujan… persis seperti yg saya baca di RR-RR yg saya sebutkan tadi… sayapun hanya bisa tersenyum kecut. mereka menawarkan jasa untuk mengantarkan saya ke puncak B29. Saya menolak dengan halus karena saya pikir sepertinya saya bisa kesana sendiri dengan bekal gmaps dan kalaupun kesasar, saya bisa menanyakan arah kpd warga sekitar.
Akhirnya hujan sedikit reda, sayapun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menembus gerimis. 2 pemuda tadi juga ikut jalan mengikuti saya. Sempet merasa was-was karena 2 pemuda tadi terus mengikuti di belakang saya. Tapi saya mencoba untuk berpikir positif dan lagipula walaupun jalan pagi itu relatif sepi, masih ada beberapa kendaraan lain yg melintas. Dan ketika ada mobil lewat, aku sengaja mengekor dibelakang mobil.Sekitar 3 km sebelum desa Argosari, kondisi jalanan aspal rusak cukup parah, penuh dengan lubang2 dan aspal yg terkelupas. Untungnya proses perbaikan sedang dilakukan, jadi mungkin dalam bbrp hari kondisi jalannya bisa jadi lebih baik.


jalan rusak penuh lobang


Sekitar 20 menitan melewati jalan rusak, dan masih diikuti oleh kedua pemuda tadi, sayapun sampai di gapura selamat datang di desa Argosari yg merupakan desa terakhir sebelum puncak B29. Udara lumayan dingin seiring dengan turunnya kabut. Saya berhenti sebentar untuk sekedar mengambil foto. Kedua pemuda tadi juga ikut berhenti. Mereka kembali menyapa saya dan menawarkan jasa untuk mengantarkan saya menuju keatas. Mereka bilang nanti ada bagian jalan yg sangat sulit untuk dilewati dalam kondisi basah begini sehingga lebih baik ngojek dengan mereka. Mereka juga bilang kalo saya bisa menitipkan motor di warung yg ada didekat gapura ini. Saya kembali menolak tawaran mereka dengan halus. Saya bilang kalo saya ingin naik keatas pake motor saya, dan emang itu intinya… dan juga supaya nanti bisa foto2 dengan si hitam, hehehe.



Akhirnya saya melanjutkan perjalanan dan kedua pemuda tadi juga ikut jalan. Tidak lama setelah melewati gapura, jalanan menjadi sangat rusak. Sepertinya ini adalah bekas jalanan aspal/semen yg sudah 90% hancur tinggal bebatuan jadi seperti jalan gravel bercampur tanah. Kondisi jalan sedikit licin karena basah oleh air hujan, tetapi masih bisa saya lalui tanpa kesulitan yg berarti.


jalan batu campur tanah


Sekitar 1 kiloan melalui jalan tersebut, jalanan diganti dengan jalan coran 2 jalur kecil cukup untuk ban mobil yg lebih bersahabat. Perjalanan melalui tanjakan dan kelokan pun jadi sedikit lebih mudah… saya bersyukur dalam hati… kalo kondisi jalannya seperti sih, sepertinya saya bisa sampe atas sendiri walaupun kondisi basah habis hujan. Btw, hujannya saat itu sudah berhenti dan btw lagi, kedua pemuda tadi juga masih mengikuti di belakang saya. Mungkin mereka juga ingin naik sampe atas, pikir saya.



Setelah jalan sekitar 2 km ternyata jalur corannya habis, tepat sebelum satu tanjakan yg lumayan curam dan panjang… Whaaattt?!?
Dan di depan saya telah menunggu jalanan tanah yg tidak rata, basah dan lembek yg pastinya licin dan berat untuk dilalui… sepertinya mimpi buruk saya telah menjadi kenyataan… keluh saya dalam hati.






Climb to the top...

Saya meminggirkan motor untuk beristirahat sebentar sambil mengamati situasi dan kondisi. Tanjakan didepan saya ini cukup curam walaupun tidak terlalu ekstrim tapi lumayan panjang dan permukaan tanahnya tidak rata. Dalam kondisi kering, saya cukup yakin kalau saya bisa melalui tanjakan ini walaupun mungkin harus bersusah payah. Nah, masalahnya sekarang kondisi jalannya basah… saya sedikit ragu2 apakah saya bisa melalui tanjakan ini.


tanjakan pertama yg cukup menantang


Kebetulan dua pemuda tadi juga ikut berhenti dan menghampiri saya. Mereka bilang kalo tanjakan ini lumayan sulit dilalui dalam keadaan basah begini, apalagi mereka bilang motor saya kelihatannya agak berat. Saya juga sebenarnya dalam hati berpikiran yg sama, dalam kondisi seperti ini memang bobot pulsar menjadi sedikit bermasalah… hadeehhh… pemuda itu menambahkan kalo nanti diatas masih ada bbrp tanjakan yg lebih berat dari ini… whaaattt!!? Kayaknya mereka coba menakut2i saya, supaya saya ngojek dengan mereka. Dan jujur saja, sepertinya usaha mereka sedikit berhasil… Hahaha.
Saya melihat ada beberapa warga yg naik dan turun melewati tanjakan tersebut. Saya coba mengamati cara mereka melewati tanjakan tersebut. Saya lihat mereka mengalami kesulitan padahal mereka naik motor bebek yg relatif enteng dan lebih mudah dikendalikan. Setelah melihat bbrp warga melewati tanjakan tersebut dan mengamati bagaimana mereka melewati tanjakan tersebut, akhirnya saya membulatkan tekad untuk mencoba naik keatas sendiri. Saya bilang kepada dua pemuda ojek tadi kalo saya akan coba melanjutkan perjalanan sendiri. Mereka mempersilahkan saya untuk lanjut sendiri dan bilang kepada saya kalo mereka akan ikut dibelakang saya untukn sekedar jaga2 kalau saya berubah pikiran atau butuh bantuan.


seorang warga menaiki tanjakan


Agak sedikit grogi, saya mencoba konsentrasi sambil mengingat2 jalur yg diambil oleh para penduduk tadi sebagai panduan untuk naik. Si pemuda tadi memberi tips untuk tidak terlalu sering menggunakan kopling dengan cara main gas di gigi 1 aja. supaya kampas kopling tidak cepat habis. Baru sekitar 10 meter nanjak, karena permukaan tanah yg licin, roda belakang saya terpeleset ke kiri ke dalam bagian jalan yg tidak rata yg membentuk seperti parit kecil. Sontak kaki kanan saya menahan beban motor yg oleng kekanan. Untungnya posisi kaki saya memang sudah turun jadi masih bisa menahan motor agar tidak sampe jatuh. 2 Pemuda tadi pun berlari membantu saya mendorong ban motor keluar dari ‘parit’ kecil dan membantu menyeimbangkan posisi motor saya. Jantung saya berdebar karena nyaris terguling, sayapun mencoba menenangkan diri sambil kembali berkonsentrasi. Setelah posisi motor kembali seimbang, sayapun memutar gas pelan2 dan si hitam dengan susah payah mulai menanjak sedikit demi sedikit. Kaki kiri kanan saya biarkan tetap turun menjejak tanah untuk berjaga2 kalau kembali terpeleset. Dan benar saja, baru sekitar 20 meter jalan, kali ini roda depan saya yang terperosok ke dalam ‘parit’ di sisi tengah jalan. Secara reflex kaki kanan saya menahan supaya tidak jatuh. Sialnya tanah pijakan kaki saya licin karena air hujan. Akhirnya si hitam pun sukses terguling ke kanan. Untungnya saya masih sempat ‘melompat’ sehingga tidak ikutan mencium tanah merah. Si mas2 ojek langsung membantu saya membangunkan si hitam yg untungnya tidak apa2, hanya frame slidernya yg patah karena menahan beban motor yg untungnya masih bisa dipasang lagi walaupun ada bagian yg gompal.
Setelah motor di dirikan, si mas2 ojek kembali menyarankan saya untuk menggunakan jasa mereka untuk naik ke atas mengingat jalurnya masih agak jauh dan medannya akan lebih berat semakin keatas. Akhirnya saya mengibarkan bendera putih dan harus mengakui kekalahan… nampaknya saran mas2 ojek terdengar lebih masuk akal. Akhirnya aku setuju untuk diantar oleh mereka ke atas. Karena saya ingin membawa si hitam sampe keatas juga jadinya saya memakai jasa mereka berdua. Yg satu membonceng saya, yg satunya lagi membawa si hitam. Awalnya mereka meminta ongkos 100rb/orang, setelah nego akhirnya kami setuju dengan harga 65rb/orang. Kamipun melanjutkan perjalanan keatas.


saya harus turun karena motornya gak kuat nanjak mbonceng saya... wkwkwk



mas ojek yg harus bersusah-payah mengajak si hitam naik keatas


Benar seperti yg dikatakan mereka, semakin keatas medan semakin berat. Beberapa tanjakan yg lumayan curam ditambah tanah yg basah sehabis hujan membuat medannya menjadi lumayan berat. Di kiri-kanan adalah kebun-kebun dengan kontur yg lumayan terjal jadi mirip2 jurang tapi dengan pemandangan yg lebih menyegarkan.


jurang yg menyegarkan...


Di beberapa bagian bahkan si mas2 ojek harus kewalahan dan turun mendorong si hitam yg lumayan berat. Ternyata keputusan saya untuk menyewa tukang ojek sangat tepat karena sepertinya saya gak mungkin bisa naik keatas kalo hanya seorang diri, tidak dalam kondisi medan yg seperti ini…


yg sudah biasa melalui medan ini pun harus mendorong si hitam



di beberapa spot bahkan harus mendorong si hitam berdua...


Sekitar lebih dari satu kilo jalanan tanah merah, kami disambut oleh jalan paving blok. Gak pernah sebahagia ini ngeliat jalanan paving, hehehe. Medan yg lebih bersahabat ini membuat saya lebih bisa menikmati pemandangan segar perbukitan yg diselimuti oleh kebun2 sayuran warga setempat.


pemandangan yg lebih indah dari perbukitan... jalanan paving! wkwkwk




Setelah sekitar 2 km melalui jalan paving melewati sisi2 bukit, akhirnya kami sampe di parkiran Puncak B29. Dari tempat parkir kita masih bisa naik lagi ke puncak bukit yg merupakan ujung puncak B29 dengan naik motor. Saya sempat terjatuh sekali lagi ketika menaiki bukit. Sampai diatas bukit yg merupakan tanah lapang, saya disajikam pemandangan yg cukup menakjubkan… perasaan senang, puas dan lega bercampur jadi satu setelah akhirnya bisa sampai ke puncak walaupun harus jatuh bangun dan di bantu oleh mas2 ojek.


akhirnya sampai puncak! gaya banget... padahal yg bawa tukang ojek, hahaha






panoramic view of B29



si hitam memandang bromo...



puncak Semeru di sebelah kiri



puncak B30 di sebelah kanan... iya, ada puncak B30 juga.



I'm a happy man...




Alhamdulillah dikasih kesempatan menikmati satu lagi keindahan negeri ini...
Mudah2an punya kesempatan untuk terus menjelajah dan menikmati keindahan negeri ini... Bravo Indonesia!! Bravo Prides!