CONSUMO ERGO SUM! Central Java Culinaride Part.1





Agustus 2015

‘Cogito ergo sum’ ...aku berpikir maka aku ada... begitu kata orang pintar mendefinisikan tentang eksistensi kita. Tapi berhubung saya bukan termasuk orang pintar, maka saya berpendapat bahwa ada hal lain yg membuat kita ‘ada’... yaitu MAKAN! Manusia tak mungkin ada/hidup kalo manusia tidak makan... ‘aku makan maka aku ada’ begitulah menurut logika dangkal saya yg memang jauh dari pintar ini, hehehe. Makan adalah hal yg sangat penting (kalo bukan yg paling penting) bagi kita, atau paling tidak bagi saya. Banyak kata2 bijak tentang pentingnya makan. ‘part of the secret of success is to eat what you like...’ begitu kata orang bule. Orang2 kita juga bilang ‘ngumpul gak ngumpul asal makan’ ...bener gak ya? ‘Pagar makan tanaman’ ....hehehe, ngaco. ‘banyak makan banyak rejeki’ ...wkwkwk, tambah ngaco (maaf, saya lagi laperr). Tapi intinya adalah ‘makan’ merupakan hal yg sangat substantif dalam kehidupan manusia. Jadi untuk merayakan ide tentang pentingnya makan, maka saya akan mendedikasikan perjalanan ini untuk menikmati kelezatan kuliner Nusantara selain juga untuk menikmati keindahan alam Nusantara



berbagai macam kuliner Nusantara yg kita coba selama perjalanan


Awal dari perjalanan ini adalah karena dalam beberapa bulan terakhir ini istri tercinta sudah stress karena urusan kerjaan dikantor dan butuh penyegaran sehingga dia mengusulkan untuk pergi turing berdua. Usul yg sangat sedikit mengagetkan mengingat istri saya memang tidak kuat naik motor terlalu lama dan biasanya saya yg harus membujuk dia untuk ikut turing. Berhubung saya dan si hitam (my black pulsar 200) juga sudah sangat kangen turing (karena terakhir turing adalah tahun lalu), maka sayapun menyambut usul tersebut dengan antusias. Kitapun menentukan bahwa tujuan perjalanan kita kali ini adalah Jogja dan sekitarnya. Alasan kita memilih Jogja adalah karena ada beberapa tempat yg ingin kita kunjungi. Istri saya pingin sekali mengunjungi Istana Ratu Boko, saya masih penasaran untuk menikmati kuliner favorit saya khas Jogja yaitu GUDEG! Dan kami berdua juga ingin menuntaskan rasa penasaran kami untuk menikmati keindahan daerah Gunungkidul. Kebetulan beberapa tahun lalu kami pernah berencana untuk ke Gunungkidul tetapi batal. Dan berhubung kita berdua suka makan, maka selain memanjakan mata, kita juga akan banyak2 memanjakan lidah dalam perjalanan ini...
Oke, Mari kita mulai sarapannya... eh, maksud saya ceritanya....


Delivery & Pick up service

Perjalanan dimulai pada akhir Agustus, kebetulan istri saya masih punya cuti panjang dari kantor dan juga kampus juga masih libur sampai awal September sehingga saya punya banyak waktu. Kita berangkat dari Jakarta minggu tanggal 23 agustus 2015. Untuk mengakali istri saya yg tidak kuat riding terlalu lama maka kita memutuskan kalo istri saya akan naik kereta sampai Purwekerto dan saya akan menjemput disana untuk kemudian dilanjutkan dengan riding bareng ke Jogja. Hari minggu, 23 Agustus kita memulai perjalanan dari jakarta. Tepat habis subuh kami berangkat dari kemayoran. Perjalanan dimulai dengan mengantar istri saya ke stasiun kereta Pasar senen karena istri saya akan naik kereta jam 5.30 ke Purwokerto. Selanjutnya saya akan meneruskan perjalanan naik motor ke Purwokerto untuk menjemput istri saya.
Dari stasiun Pasar senen saya langsung mengarah ke Pantura melewati Kalimalang-Bekasi-Cikarang-Cikampek. Lalu lintas pagi itu lumayan sepi karena memang hari minggu. Saya biasanya memang selalu memilih hari minggu kalau berangkat turing karena tidak mau terjebak kemacetan waktu pagi dihari kerja (yg biasanya sangat luar biasa dan menguras tenaga) sehingga bisa menyimpan energi. Sempat berhenti sebentar di sebuah SPBU di daerah subang untuk sekedar beristirahat sebentar sambil berkomunikasi dengan istri. Menurut jadwal, istri saya akan tiba di stasiun Purwokerto pukul 11. Saya sendiri memperkirakan kalo saya akan tiba di sana sekitar pukul 1 siang sehingga istri saya mungkin harus menunggu di stasiun. Dari subang saya meneruskan perjalanan dengan kondisi lalu lintas pantura yg sangat lenggang. Sekitar jam 10 saya sampe di Cirebon dan memutuskan untuk mencari sarapan karena perut memang sudah lapar. Pilihan jatuh pada kuliner khas cirebon yg sudah sangat terkenal yaitu nasi jamblang. mungkin priderian sudah pada tahu kalo nasi jamblang adalah nasi yg dibungkus daun jamblang (jati) sehingga memberikan aroma khas yg mengundang selera. Nasi jamblang biasanya dimakan dengan bermacam lauk-pauk yg bisa kita pilih sendiri menurut selera. Saya makan 2 bungkus nasi jamblang dengan ditemani lauk telor dadar, tahu, kentang dan sambal. Harga nasi jamblang cukup murah (tergantung lauk yg kita makan) semua tadi plus teh manis dihargai 11 ribu.


Sarapan pagi

Kenyang sarapan langsung lanjut menuju Purwokerto melalui brebes-Bumiayu-Banyumas-Purwokerto. Dari Brebes kearah Bumiayu banyak perbaikan jalan sehingga di beberapa ruas jalan harus terjadi sistem buka tutup yang mengakibatkan kemacetan, wah bakalan telat lama nih. sekitar Pukul 1 siang saya baru sampai Bumiayu dan mengabarkan istri kalo akan banyak terlambat sampe Purwokerto. Istri mengabarkan kalo dia udah sampe Purwokerto dari jam 11. Saya pun langsung lanjut dan akhirnya sampe di stasiun Purwokerto jam 2.


Menjemput boncenger

Akhirnya bertemu dengan istri tercinta dan bersiap untuk riding berdua. Dari stasiun kita meluncur meninggalkan kota Purwokerto yg lumayan ramai. Karena kami berdua sudah lapar maka kami memutuskan untuk makan siang. Kami pun mencoba kuliner khas daerah ini yaitu Soto Sokaraja atau yg kadang2 disebut Sroto. Kita bisa menemukan banyak warung soto Sokaraja di ruas jalan masuk daerah Sokaraja dimana juga terdapat banyak toko oleh2 khas Purwokerto/Sokaraja yaitu getuk goreng. Soto Sokaraja sendiri adalah Soto bening dengan isi tauge, mihun, lontong, dan daging sapi/ayam. Yang khas dari soto sokaraja selain rasanya adalah sambelnya yg menggunakan sambel kacang. Satu mangkok soto Sokaraja sapi/ayam dihargai 16 ribu.


Makan siang Soto Sokaraja

Dari Purwokerto, tujuan kami berikutnya adalah ke Jogja melalui Wonosobo. Kenapa harus lewat Wonosobo? Kita sengaja memilih lewat Wonosobo (bukan lewat Pantura yg relatif lebih cepat) karena istri saya kangen ingin makan satu makanan khas dari Wonosobo yaitu Mi Ongklok. Istri saya pertama kali makan mi onglok ketika terakhir turing bareng ke Dieng dan rasa dari Mi Ongklok ini benar2 membekas di lidah istri saya sehingga ia pingin merasakan lagi kelezatan kuliner khas Wonosobo ini.
Dari Purwokerto kita riding santai sambil menikmati pemandangan segar di kiri-kanan. Kita riding dengan interval 2 atau 1 jam karena memang segitu tenggang waktu istri saya kuat duduk diatas motor, Bahkan kalau sudah riding cukup lama, intervalnya bisa jadi tiap ½ jam, hihihi. Tapi kita enjoy aja karena memang gak ada target untuk sampai jam berapa dan ini memang jalan2 bukan balapan. Salah satu alasan kenapa saya lebih suka solo riding adalah karena saya bisa menentukan sendiri tempo, kecepatan, atau gaya dalam berkendara dan bagi saya itu sangat penting untuk kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan.
Tepat waktu magrib kami tiba di kota Wonosobo. Tujuan pemberhentian pertama adalah satu warung mi ongklok yg sudah sangat legendaris di Wonosobo yaitu warung Mi Ongklok Pak Muhadi. Menurut informasi yg saya baca, Pak Muhadi inilah yg menciptakan resep Mi Ongklok yg akhirnya menjadi sangat terkenal sebagai kuliner khas dari Wonosobo.


Yeayy, akhirnya sampe juga!

Kami memesan 2 mangkok mi ongklok dan 1 porsi sate sapi (isi 10 tusuk). Mi ongklok sendiri adalah makanan yg berisi mi dicampur dengan sayuran seperti kol, daun bawang, seledri dan disiram dengan kuah kental yg khas dan biasanya ditemani dengan sate sapi dan bermacam gorengan. Harga seporsi mi ongklok sendiri cukup murah yaitu 6 ribu rupiah saja dan seporsi sate daging sapi dihargai 20 rb.


Mari makaannn

Kelar makan mi ongklok kamipun beristirahat sambil menentukan langkah berikutnya. Rencana awal kita adalah bermalam di rumah mertua adik saya di daerah Grabag, Magelang sekalian bersilaturrahmi sebelum melanjutkan ke Jogjakarta. Tetapi karena istri saya sudah lelah dan saya pun lumayan capek karena sudah riding selama 13 jam lebih dan diitambah lagi, kalo kami lanjut ke Grabag berarti kami harus melewati lereng gunung Sumbing & Sindoro yg menanjak dan berliku2 dengan udara dingin dan kemungkinan kabut di gelap malam, maka kami memutuskan untuk bermalam di Wonosobo. Lagipula saya memang ingin menikmati indahnya pemandangan jalur Wonosobo-Temanggung yg membelah dua gunung yaitu Sumbing dan Sindoro. Dan kebetulan istri saya juga masih ingin merasakan mi ongklok lagi, hehehe.
Kami memutuskan untuk menginap di Hotel Parama yg letaknya tidak jauh dari alun2. Kebetulan kami pernah menginap di hotel yg sama waktu kita turing ke dieng 2 tahun lalu. Tarif kamar dihotel ini cukup murah yaitu 100 rb dengan fasilitas yg standar. Setelah check in, mandi, dan istirahat sebentar... sekitar jam 9 malam kami pun keluar hotel untuk jalan2. Kami ingat bahwa di dekat hotel ada satu warung mi ongklok yg lumayan enak, namanya mi ongklok Pak Yadi. Walaupun tempatnya warung tenda dipinggir jalan, tapi warung ini lumayan rame. Bahkan menurut kami, rasanya lebih enak dari Mi Ongklok pak Muhadi yg lebih terkenal itu. Kenyang makan mi ongklok kamipun kembali ke hotel untuk istirahat.


Ronde kedua... mi ongklok pak Yadi deket hotel



Membelah dua buah gunung....
Pagi hari Senin, 24 Agustus. Kitapun bersiap2 untuk melanjutkan perjalanan. Setelah check out dari hotel kitapun meluncur menuju tujuan berikutnya yaitu Grabag, Magelang. Sebenernya untuk sarapan pagi kami masih penasaran untuk mencoba satu lagi mi ongklok yg sangat terkenal di Wonosobo yaitu Mi Ongklok Longkrang, tapi sayang tempatnya masih tutup. Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan meninggalkan Wonosobo.
Keluar dari kota Wonosobo, jalanpun mulai menanjak karena jalur Wonosobo-Temanggung adalah jalur yg membelah 2 buah gunung yaitu Gunung Sumbing dan Sindoro. Udara segar menemani kami menikmati indahnya pemandangan alam pegunungan. Mendekati lereng gunung, kita mulai menjumpai perkebunan tembakau di kiri-kanan jalan karena memang kabupaten Temanggung adalah salah satu daerah penghasil utama tembakau dipulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Walaupun saya bukan perokok, tetapi mencium aroma tembakau ditemani dengan sejuknya udara pagi cukup memberikan sensasi yg menyegarkan.


kebun tembakau



Gunung Sumbing menyambut morning cruising...

Jalan menuju Sindoro-Sumbing cukup mulus dan lebar. Semakin naik ke atas, semakin menanjak dan berkelok2 jalannya dengan kebun tembakau di sekeliling. Hampir mirip dengan jalur puncak (Bogor) Cuma bedanya kalo di puncak kiri-kanannya adalah kebun teh, disini kebun tembakau. Kalo kita dari arah Wonosobo menuju Temanggung, maka kita akan mendapatkan Gunung Sindoro di sebelah kiri kita dan gunung Sumbing di sebelah kanan.


Jalur Sindoro-Sumbing

Setelah beberapa lama riding, sekitar jam 9 pagi kita sampai di Kledung Pass yg kira2 merupakan titik tengah dan titik tertinggi di jalur yg membelah gunung Sindoro dan Sumbing ini (mirip2 seperti Puncak Pass). disini ada sebuah Rest area yg cukup besar dimana kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing. Sayapun mengarahkan si hitam ke Rest area tersebut karena kebetulan istri sudah butuh istirahat dan juga untuk mengistirahatkan mesin motor karena bau kampas kopling terbakar sudah mulai tercium dari blok mesin. Suasana rest area pagi itu sangat sepi karena memang hari itu adalah hari senin.hanya ada kami berdua dan seorang abang bakso yg ada disitu. rest area ini ternyata cukup luas, berbentuk seperti taman lapang yg luas dengan beberapa gazebo untuk beristirahat dipinggir dan juga toilet dan kamar mandi. Kamipun beristirahat dan tentunya tidak lupa berfoto2 untuk mengabadikan keindahan Gunung Sindoro dan Sumbing.


Gunung Sindoro di belakang


Narsis dulu bersama si hitam dengan latar belakang Gunung Sumbing


Kali ini narsis bersama boncenger setia dengan latar belakang Gunung Sindoro


Dan akhirnya berfoto keluarga... saya, istri tercinta, dan si hitam... wkwkwk

Puas beristirahat dan menikmati pemandangan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah kerabatPuas beristirahat dan menikmati pemandangan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah kerabat kami di Grabag. Dari Kledung rest arena jalur mulai menurun kearah Parakan sebelum Temanggung. Sampai di kota Parakan sekitar jam 10, kamipun mencari sarapan pagi karena perut kami memang sudah sangat lapar sebab belum sarapan dari pagi. Sebenarnya kami ingin muter2 mencari kuliner khas daerah ini, tetapi berhubung lapar yg tak tertahankan kamipun berhenti di warung pertama yg bisa kami temui. Kami berhenti disebuah warung nasi yg ternyata adalah warung prasmanan.... wah, kebetulan banget! ibarat peribahasa ...’pucuk dicinta nasi ulam pun tiba’ kamipun langsung mengambil nasi, sayur, dan lauk dengan porsi sarapan pagi digabung dengan makan siang... hehehe.


Sarapan porsi dobel

Selesai sarapan, kitapun melanjutkan perjalanan menuju Grabag. Sekitar jam 12 siang kitapun sampai di Grabag. Grabag adalah kota kecil yg termasuk dalam Kabupaten Magelang. Grabag sendiri berlokasi deket dengan gunung Merbabu dan Telomoyo sehingga udaranya cukup segar. Sampe dirumah kerabat, kami disambut dengan hangat oleh keluarga dari adik ipar saya ini. Setelah beramah-tamah sebentar kami langsung diajak makan siang. anehnya, walaupun kami baru saja sarapan sekitar 3 jam yg lalu tapi kami tetap makan... mungkin karena tangki kami berdua besar2, hehehe. Dan gak baik juga menolak rejeki, ditambah juga hidangan khas rumahan masakan mertua ipar saya terlihat begitu menggoda.

Masakan rumahan yg munggugah selera

Selesai makan siang kami jadi agak mengantuk. Tadinya rencananya habis makan siang kita mau ke jalan2 ke Ambarawa atau Rawa Pening, tapi berhubung abis makan enaknya tidur, maka kamipun memilih untuk beristirahat. Sekitar habis asar kami bangun dan rencananya sore ini kami akan mencoba mengunjungi tempat2 wisata yg ada di daerah ini. Dapet informasi dari saudara kami kalo dekat sini ada tempat pemandian air hangat Candi Umbul dan juga wisata telaga Bleder. Kamipun langsung pamit untuk berangkat ke tempat tersebut.

Tujuan pertama kami adalah Pemandian air hangat Candi Umbul yg letaknya hanya sekitar 3 km dari rumah saudara saya. Jalan menuju Candi Umbul sangat menyegarkan mata dimana kami bisa melihat sawah hijau di kiri-kanan dan puncak gunung didepan kami. Menurut informasi di lokasi, Candi Umbul sendiri adalah situs pemandian yg dibangun oleh Dinasti Syailendra, dinasti yg sama yg membangun candi Borobudur.menurut keterangan sejarah, tempat ini dipakai oleh putri2 kerajaan untuk ritual membersihkan badan sehabis melakukan upacara di Candi Borobudur.


Situs budaya Candi Umbul

Untuk masuk ketempat ini, kita cukup membayar Rp. 2500/orang ditambah parkir Rp.1000 . tempatnya tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih dan asri. Di tempat ini ada 2 buah kolam pemandian yg berisi air hangat yg berasal dari mata air hangat di dasar kolam. Ada beberapa orang yg sendang berendam di dalam kolam, Sayangnya kami tidak bawa baju ganti sehingga saya hanya bisa menyemplungkan kaki untuk sekedar merasakan kehangatan air kolam.


Puas menikmati pemandangan ditempat ini, kamu pun beranjak untuk menuju tempat berikutnya yaitu Telaga Wisata Bleder. Menuju Telaga Bleder, kami kembali disajikan pemandangan indah khas pedesaan yaitu gunung dan sawah.


Pemandangan yg menyegarkan


Sampai telaga Bleder, saya sedikit kecewa karena di sekeliling telaga ini dibatasi pagar tembok sehingga kita harus masuk melalui pintu masuknya yg ternyata tutup pula... setelah melihat2 sebentar ternyata Telaganya sedang direnovasi (telaga kok di renovasi..??) ternyata disamping telaganya akan dibangun kolam renang/taman bermain air (mungkin seperti waterboom). Saya berpikir, sayang sekali tempat yg tadinya alami harus diubah... tetapi itulah tuntutan modernisasi. Kadang kita harus mengikuti tuntutan zaman dan mungkin menurut orang2 jaman sekarang, berenang di kolam renang itu lebih asyik daripada berenang di danau...


Telaga Bleder yg akan segera disulap menjadi Taman bermain air

Habis dari telaga Bleder, kita pun kembali ke rumah saudara saya karena kami memang berencana bermalam disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Jogja besok pagi.



Pergi Ke Kotamu...

Keesokan harinya kamipun berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja. Dari Grabag ke Jogja kami melewati kota Magelang dan mengambil arah ke Candi Borobudur. Tetapi kami tidak berencana mengunjungi Candi Borobudur karena saya dan istri saya sudah pernah beberapa kali mengunjungi candi Budha terbesar di dunia ini. Yang ingin kami kunjungi disini adalah satu candi yg terletak tidak jauh dari Borobudur yaitu candi Mendut. Kebetulan kami berdua belum pernah mengunjung candi Mendut. Kami sampe di candi Mendut sekitar pukul dan langsung membeli tiket masuk untuk menikmati keindahan candi Mendut. Candi Mendut sendiri hanya terdiri dari satu candi utama dan tidak terlalu besar atau semegah Borobudur atau Prambanan. Tetapi tetap menyajikan keindahan dan menunjukkan kebesaranan budanya bangsa kita di masa lampau.


Candi Mendut yg anggun


Salah satu arca di komplek candi Mendut... wkwkwk


Arca Budha didalam candi

Dari candi Mendut, kami melanjutkan perjalanan ke kota Jogja. Sebenernya tujuan akhir kami hari ini adalah Klaten karena walaupun tujuan wisata kami adalah Jogja dan sekitarnya, kami akan menginap di rumah paman dari istri saya yg tinggal di Klaten...lumayan buat menghemat biaya...
Kami sampai di Kota Jogja sekitar waktu makan siang yg berarti waktunya... makan siang, hehehe. Dan tentu saja tujuan tempat makan kami adalah... apa lagi kalo bukan Soto Betawi! eh, salah... maksudnya Gudeg!! Kebetulan saya adalah penggemar berat gudeg dan istri saya juga suka gudeg. Dan memang saya sudah meniatkan bahwa dalam perjalanan ini saya ingin memuaskan selera saya akan makan khas Jogja yg satu ini. Sebelum berangkat sudah browsing cari2 informasi tentang gudeg2 enak yg harus di coba di Jogja. Selain Gudeg Yu Djum yg sudah sangat terkenal, satu lagi nama tempat makan gudeg yg cukup sering di rekomendasikan adalah gudeg Bu Hj. Ahmad yg letaknya berdekatan dengan gudeg Yu djum pusat yang berlokasi tidak jauh dari area kampus UGM.


gudeg pertama dihari pertama... Gudeg Bu Hj. Ahmad

Setelah mencari2 dengan bantuan google map akhirnya kami menemukan tempat yg dimaksud. Kamipun langsung memesan sepiring nasi gudeg lengkap dengan kerecek dan telur pindang. Gudeg Bu Ahmad ini memang lezat seperti yg diceritakan orang2. Kuah arehnya yg sangat kental dan sambel kreceknya yg agak pedas semakin menggugah selera makan kita. Harganya pun cukup murah, sepiring gudeg krecek plus telur pindang dihargai 11 ribu rupiah.


Bener2 Maknyoss!!

Habis mencoba Gudeg Bu Ahmad, kami muter2 kota Jogja sebentar sebelum sorenya kami kembali lagi kali ini mencoba gudeg yg legendaris di Jogja yaitu Gudeg Yu djum yg kebetulan berlokasi tidak jauh dari Gudeg Bu Hj. Ahmad. Saking terkenalnya, Gudeg Yu Djum mempunyai banyak sekali cabang di Kota Jogja dan sekitarnya. Tetapi yg disini inilah pusatnya. Harga gudeg disini juga tidak mahal, hampir sama dengan harga gudeg Bu ahmad.


Gudeg kedua


gudeg Yu Djum

Sebenarnya dalam beberapa hari ke depan saya mencoba bermacam2 gudeg yg ada di Jogja, tapi untuk lengkapnya saya akan membuat tulisan sendiri tentang pengalaman menikmati gudeg tersebut
Setelah menyantap gudeg kedua, kamipun melanjutkan perjalanan ke Klaten. Kami sampai di rumah Paman istri saya di Klaten sekitar pukul 7 malam. Setelah ngobrol2 dengan paman kami, kamipun pamit istirahat karena memang sudah lumayan lelah dan ingin mengumpulkan tenaga karena besok pagi kami akan memulai perjalanan mengeksplor Jogja dan sekitarnya.


Jogja Istimewa!

Dalam 5 hari kedepan, kami rencananya akan mengeksplore keindahan Jogja dan sekitarnya Kami akan mengunjungi obyek2 wisata di Jogja yg belum pernah kami kunjungi sebelumnya. kami juga berencana menikmati keindahan alam Gunungkidul ... dan tentu saja melanjutkan perjalanan kuliner mencoba berbagai macam gudeg lezat di kota Jogja dan juga kuliner tradisional lainnya, yes!!
Dalam beberapa hari keliling Jogja, kami mengunjungi beberapa obyek wisata yg ada di Kota Jogja. Di Jogja ini banyak tempat wisata yg sudah sangat terkenal seperti jalan Malioboro, Keraton Jogja dan alun2nya. Tetapi kami tidak berencana mengunjungi tempat2 tersebut karena memang sudah pernah kami kunjungi sebelumnya. Kami coba mencari tempat2 menarik lain dikota Jogja yg belum pernah kami kunjungi. Dan Ternyata kota Jogja masih masih menyimpan tempat2 istimewa dan unik yg belum pernah saya kunjungi sebelumnya.
Satu tempat wisata yang belum pernah kita kunjungi adalah Taman Sari yang merupakan taman pemandian untuk keluarga keraton. Ternyata Taman sari adalah satu obyek wisata yg sangat menarik. Di dalamnya kita bisa melihat beberapa kolam yg biasa dipakai oleh keluarga Keraton untuk mandi atau sekedar bermain air. Untuk lebih jelasnya, biar foto2 yg menjelaskan.


bagian depan


bagian dalam dimana terdapat 2 kolam besar


di depan salah satu kolam pribadi yg ada di bagian samping


gapura besar di bagian belakang

Di daerah belakang Taman Sari kita bisa menemukan pintu tembus menuju desa wisata yg ada di belakangnya. Desa ini punya nama unik yaitu ‘kampung cyber’. ditempat ini kita bisa menemukan banyak toko Cinderamata yg menjual bermacam2 produk unik dan menarik hasil karya penduduk lokal .


Di dekat sini juga ada satu tempat yg sangat unik yaitu sebuah masjid yg berada di bawah tanah! Yup, betul... dibawah tanah... unik ya, dan saya baru tahu loh.... Norak ya... hahaha. Menurut informasi yg saya dapat, masjid ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono pertama sebagai tempat ibadah yg juga bisa difungsikan sebagai benteng pertahanan.


Bagian atas (lantai 2) dari Masjid Bawah tanah yg bisa kita lihat diatas permukaan tanah.


lorong ke bagian bawah Masjid


Arsitektur Masjid ini juga unik karena bentuknya melingkar dan terdiri dari dua tingkat dengan anak tangga yg unik yg berada di tengah2. Menurut info, desain melingkar ini dibuat sebagai tata akustik supaya suara sang imam bisa didengar dari seluruh sisi masjid (dengan memanfaatkan gema) karena dijaman itu memang belum ada pengeras suara... hebat ya. Berada di dalam mesjid ini saya merasa seperti berada di dalam bangunan kuno di eropa di jaman pertengahan... lebay ya... hehehe.


Arsitektur dalam masjid yg berbentuk melingkar




Tangga untuk menuju lantai 2 yg mempunya 5 ruas tangga sesuai dengan jumlah waktu solat


tempat imam shalat

Keunikan masjid bawah tanah dan keindahan Istana air Taman Sari benar benar membuat kami kagum. jogja ternyata masih menimpan banyak pesona tersembunyi. dan itulah yg coba kami lakukan dalam beberap hari ini, mencoba mengeksplor pesona keindahan kota Jogja dan mencari tempat2 menarik lainnya.
Kita menemukan satu lagi tempat yg sangat menarik dan unik di Jogja, terutama buat kalian yg menyukai seni lukis. Tempat itu adalah Museum Affandi. Seperti kita tahu, almarhum Affandi adalah salah satu maestro seni lukis di tanah air yg juga sudah terkenal di mancanegara.


Komplek Museum Affandi

Di Museum Affandi kita bisa menikmati karya2 Affandi dari masa ke masa, kita juga bisa menemukan beberapa peninggalan pribadi beliau. Harga Tiket masuk ke museum Affandi adalah 20 ribu yg bisa ditukarkan welcome drink berupa minuman ringan di cafe. Hal menarik pertama dari tempat ini adalah desain bangunannya yg unik. Komplek museum ini terdiri dari beberapa bangunan yg dipakai sebagai galeri, studio lukis, dan sebuah cafe yg terletak dibawah sebuah bangunan asli dimana dulu almarhum affandi tinggal.


didalam salah satu gedung galeri


berpose didepan beberapa mahakarya


mobil favorit Affandi yg juga terpajang di sudut galeri

Menurut kurator museum, Affandi adalah pelukis yg sangat produktif. Selama hidupnya dia menghasilkan lebih dari 4000 karya. Lukisannya tersebar di seluruh dunia karena beliau sering traveling dan melukis di berbagai belahan dunia. Karya2 beliau juga diapresiasi sangat tinggi oleh penikmat seni mancanegara.


Lukisan yg berjudul ‘Face of Papua man’ ini adalah Lukisan yg paling mahal yg ada di galeri. Harganya adalah..... 14 Miliar!! Cukup untuk membeli 2 buah Lamborghini...



Kereta kuda yg dibuat Affandi atas permintaan istrinya untuk tempat bersantai dan berkarya


menara pandang yg ada di satu sudut komplek museum

Bagi saya, Museum Affandi ini adalah seperti berlian tersembunyi diantara tujuan2 wisata yg lainnya di kota Jogja karena namanya mungkin tidak seterkenal tempat2 wisata lainnya tetapi menyimpan pesona yg tidak kalah istimewa. Buat para penyuka seni, tempat ini pastinya adalah tempat yg harus dikunjungi kalau sedang ada di Jogja.


Di depan ogoh2 Affandi yg ada di depan cafe.

Disamping dua tempat tadi, ada satu lagi tempat menarik yg kami kunjungi di Jogja kemarin. Tempatnya bernama De Mata trick eye Museum. Kalau 2 tempat yg kami kunjungi bernuansa tradisional atau seni budaya, tempat yg satu ini mempunyai nuansa yg lebih modern. De Mata museum berlokasi di dalam komplek XT square yg dulunya adalah bekas terminal bis Umbul harjo. Disini sebenernya ada satu tempat lagi yg namanya De Arca, yaitu museum patung yg mirip2 Madame Tussaud. Tetapi karena setelah2 tempatnya kurang menarik (karena patung2nya terlihat kurang realistik seperti di Madame Tussaud) maka kita memutuskan untuk masuk ke De Mata 3D museum saja.



Di De Mata trick eye museum kita bisa melihat gambar-gambar 3 dimensi yg menarik. Bukan hanya melihat, kita juga bisa berpose di depan gambar2 3D tersebut dan terlihat seakan2 menyatu di dalamnya. Harga tiket masuk ketempat ini relatif agak mahal, yaitu 50 ribu/orang atau tiket happy hours (senin-kamis, 10.00-15.00) seharga 35 ribu. Tetapi karena kami penasaran dan mumpung kami sedang di Jogja maka tidak ada salahnya untuk menikmati tempat ini. Oke, untuk selanjutnya saya akan biarkan gambar2 yg berbicara...






Begitulah beberapa gambar2 tiga dimensi dari total lebih dari 100 gambar yg bisa kita temui di De Mata trick eye museum. Tempat yg lumayan menarik kalau kalian ingin menikmati sesuatu yg beda di kota Jogja.
Selain wisata seni dan budaya, Jogja juga menawarkan wisata kuliner yg kaya akan citarasa istimewa. Seperti kita tahu, kuliner yg paling khas terkenal dari Jogja adalah Gudeg yg juga merupakan fokus wisata kuliner kami di Jogja. Dan jika anda ingin merasakan kelezatan citarasa gudeg khas Jogja, maka anda harus pergi ke Jalan Widjilan yg merupakan sentra makanan gudeg di kota Jogja.


spot favorit di Jogja!

Di ruas jalan sepanjang kira2 300 meter ini, kita bisa menemukan deretan warung2 gudeg yg berjejer dipinggir jalan. Anda bisa mencoba bermacam2 gudeg dari mulai yg sangat terkenal seperti gudeg Yu Djum sampai yg tidak terlalu terkenal. Saya menghitung ada 12 warung gudeg yg bisa kita temui di ruas jalan ini.. .. bener2 surga bagi saya...


Deretan warung gudeg di jalan Widjilan

Disini saya mencoba 2 buah gudeg yaitu gudeg Bu Lies dan Gudeg bu Widodo. Kedua gudeg itu mempunyai citarasa yg hampir sama dan dua2nya sama2 enak. Harganya pun termasuk murah yaitu 10 ribu untuk seporsi nasi gudeg krecek plus telur pindang.


gudeg bu Lies


Gudeg bu Widodo

Selain gudeg, kita juga ingin merasakan kuliner dengan cita rasa yg berbeda di Jogja. Kita mencoba satu tempat makan yg dalam beberapa tahun terakhir ini lagi happening banget di Jogja yaitu House of Raminten. Nama Raminten sendiri diambil dari nama karakter dari sebuah pentas drama yg diperankan oleh si pemilik restoran tersebut. Restoran ini menjadi terkenal karena menyajikan konsep yg menarik dan menu yg unik, dan juga harga yg sangat terjangkau.


bersama jeng Raminten


Salah satu menu unik disini... ayam koteka

Sebenernya masih banyak kuliner2 khas Jogja lainnya yg ingin kami coba seperti sate klethek, brongkos, dan lain2. Tetapi berhubung keterbatasan space di perut kami dan juga keterbatasan dompet, maka kami akan mencobanya lain kali kami kembali lagi kesini... yes, there will be next time
Begitulah keliling2 kami di Kota Jogja yg ternyata masih istimewa dan masih menyimpan daya tarik yg membuat kita ingin terus pulang ke kota ini....

Bersambung....