CONSUMO ERGO SUM! Central Java Culinaride Part.2

Ngalor-ngidul di Gunungkidul


Rabu, 26 Agustus... hari ini rencananya kami akan menjelajah daerah Gunungkidul. Ada beberapa tempat wisata yg tersebar di daerah Gunungkidul yg ingin kami kunjung seperti Gua Pindul, air terjun Sri Gethuk, dan tentu saja deretan pantai yg berjejer di bagian selatan Gunungkidul. Sekitar jam 8 pagi kita berangkat dari rumah paman di Klaten. Tujuan pertama kami adalah air terjun Sri Gethuk, sebuah air terjun yg terletak di bagian tengah daerah Gunungkidul. Sebagai pecinta air terjun, sudah lama saya ingin mengunjungi Sri gethuk karena keindahan dan keunikannya. Salah satu keunikan air terjun Sri Gethuk adalah untuk menuju lokasi air terjun kita harus menggunakan perahu/rakit melewati sungai dengan air yg jernih dan pemandangan yang indah. Pagi itu Jalan raya Jogja-Wonosari lumayan lenggang karena memang ini hari kerja.


jalur Jogja-Wonosarij di pagi hari


Jalur Wonosari di pagi itu



menikmati udara pagi


Sampai pertigaan Playen kami mengambil arah kanan mengikuti petunjuk, jalan semakin mengecil tetapi untungnya ada cukup petunjuk menuju lokasi, walaupun kadang harus bertanya petunjuk setempat.


jalan menuju air terjun Sri Gethuk


Setelah beberapa lama, kami berbelok mengikuti petunjuk arah. Dari sini jalanan aspal digantikan oleh jalan berbatu...





Setelah sekitar 15 menit menyusuri jalan berbatu, akhirnya kami tiba di tempat parkir yg kondisinya sepi pagi itu. Kitapun memilih parkir di depan warung2 yg berada tak jauh dari loket tiket masuk. Setelah membeli tiket masuk seharga 10 ribu/orang, kitapun langsung menuju lokasi. Dari loket, kita harus berjalan sekitar 500 meter menuju tepian sungai dimana kita akan melanjutkan dengan rakit untuk mencapai lokasi air terjun. Untuk naik perahu, Kita harus membayar ongkos 10 ribu/orang.


tempat parkir dan warung2 yg masih tutup



jalur menuju kebawah



Pemandangan sungai dengan Rakit unik buatan warga sekitar



Berfoto diatas rakit sebelum berangkat menuju air terjun


Sungai menuju air terjun ini sangat bersih dan kita sebenernya bisa berenang atau body rafting kalo mau, tetapi sayangnya kami Cuma membawa satu stel baju ganti untuk nanti basah2an di gua pindul. Setelah tukang perahunya siap, kamipun berangkat menuju air terjun menyusuri sungai. Jarak menuju air terjunnya tidak jauh, mungkin hanya sekitar 500 meter. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang indah dengan beberapa air terjun kecil serta tebing2 batu yg tidak terlalu tinggi.


menyusuri sungai menuju air terjun



narsis diatas rakit



sampai di ujung sungai


Setelah sekitar 15 menitan menyusuri sungai, akhirnya kami sampai di lokasi air terjun Sri Gethuk. Sri Gethuk sendiri adalah air terjun yg cukup unik, terdiri jejeran beberapa air terjun yang mengalir ke bawah menuju gugusan batuan kapur yang membentuk undak2an dengan formasi yang cukup unik dan kemudian mengalir ke sungai


air terjun Sri Gethuk (gambar dari google)



bebatuan kapur dibawah air terjun



pemandangan dari kaki air terjun Sri Gethuk



Sri Gethuk



Bagian sungai seperti kolam dibawah air terjun yg sebenernya enak buat nyemplung... sayangnya kami tidak membawa baju ganti


Puas menikmati indahnya air terjun Sri Gethuk , kami pun beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat parkir. sebelum tempat parkir kami sempat jajan di warung yg ada di lokasi sepanjang jalur naik ke parkiran. kami menikmati segarnya kelapa muda bakar dan juga satu kuliner khas gunungkidul yaitu nasi tiwul dengan lauk ikanwader dan sambel ijo.



kelapa muda yg dibakar yg katanya lebih berkhasiat



nasi tiwul + ikan wader goreng + sambel ijo


untuk selanjutnya menuju tujan berikutnya yaitu Gua Pindul. Gua Pindul terletak di bagian agak utara kabupaten Gunungkidul. Letaknya tidak terlalu jauh dari Air terjun Sri Gethuk yaitu sekitar 45 menit perjalanan menggunakan motor.


menuju Goa Pindul


Dalam perjalanan menuju gua Pindul kami berpapasan dengan seseorang yg mengaku bekerja sebagai pengelola wisata Gua Pindul dan bersedia mengantarkan kami menuju lokasi. Sebenarnya kami agak ragu karena mengira dia adalah seorang calo yg berarti mungkin kamu harus membayar lebih mahal. Tapi karena dia meyakinkan kalo dirinya bukan calo dan orangnya juga cukup ramah, maka akhirnya kami setuju diantarkan oleh dia. Berdasarkan keterangan mas2 tersebut (yg kami lupa namanya), ternyata Gua Pindul adalah obyek wisata yg belum dikelola secara resmi oleh pemda/pemerintah sehingga pengelolaannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Ini menyebabkan munculnya banyak pengelola2 indipenden yang menyediakan paket wisata di tempat wisata yg bbrp tahun terakhir ini selalu dipenuhi wisatawan yg pastinya berpotensi ekonomi sangat besar. Menurut pengakuan si mas2 tadi, ada 9 pengelola yg menyediakan paket wisata gua Pindul dan dia adalah karyawan di salah satu pengelola tersebut


bagian depan goa Pindul


Akhirnya kita sampai di tempat pengelola wisata tempat di bekerja. Kami diberikan pilihan beberapa paket seperti Cave tubing Goa Pindul, body rafting menyusuri sungai, trekking, dan lain2 dengan harga yg berbeda2. Karena kami masih punya tujuan lain, maka kami memilih paket cave tubing (menyusuri gua menggunakan tube) yg katanya hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Dengan membayar 35 ribu/orang kami mendapatkan jaket pelampung, ban apung dan seorang guide yg akan menemani kami


bersiap memasuki goa


Seperti yg kita tahu, Gua Pindul adalah salah satu daya tarik wisata di Gunungkidul yg dalam beberapa tahun terakhir ini sangat popular. Gua Pindul sendiri adalah Gua yg dasarnya dialiri oleh sungai sehingga untuk menikmati keindahan dalam gua kita harus menyusuri sungai dengan berenang atau tubing menggunakan tube (ban). Menurut keterangan si guidenya, dulunya gua ini dianggap angker oleh warga sekitar sehingga tidak banyak orang yg berani masuk ke dalamnya. Gua ini baru mulai dibuka dan dikelola untuk wisata sekitar 5-6 tahun yg lalu.


menggunakan ban untuk menyusuri gua, atau biasa disebut 'tubing'


Masih menurut si guide, Panjang gua Pindul sendiri adalah sekitar 300 meter dengan pintu keluar di ujung yg lain. Kedalaman sungai yg mengalir didalamnya bervariasi antara 5 meter sampai 12 meter. Dinding gua dipenuhi stalaktit dan stalakmit yg bentuknya unik dan menarik dan berusia lebih dari ribuan tahun. Didalam gua pindul ada satu stalaktit yg katanya merupakan stalaktit terbesar di Indonesia dengan tinggi 9 meter dan masih bisa terus tumbuh. Keadaan didalam gua sangat gelap karena memang tidak ada sumber cahaya sehingga pengunjung harus membawa senter.


mulai memasuki gua



bagian dalam gua yg gelap




dibelakang kami adalah stalaktit raksasa yg berusia ribuan tahun


Setelah melewati stalaktit tersebut kami sampai di bagian gua dimana terdapat lubang besar di langit2 gua sehingga membuat gua terlihat terang. Di bagian ini juga ada batu2an di pinggir gua yg bisa kita panjat dan merasakan serunya loncat ke dalam sungai.


siap2 untuk loncat



keluar dari gua


Dari sini Akhirnya kami sampai di ujung gua dimana ada pintu keluar gua. Puas menikmati Gua Pindul kami pun mandi dan ganti baju di kamar mandi yg banyak kita temui di kawasan wisata gua pindul. Sekitar jam 3 sore, kamipun meninggalkan Gua Pindul untuk menuju target berikutnya yaitu kawasan garis pantai di selatan Gunungkidul. Dari Gua Pindul, perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam melewati daerah perbukitan dengan kontur yg sangat khas yaitu tanah bebatuan kering dengan pohon2 diatasnya . sayangnya kamera digital kami sudah habis batrenya sehingga kami tidak bisa mengabadikan jalur menuju pantai selatan gunung kidul yg sangat unik ini. Akhirnya sekitar jam 4.30 sore kami sampai dijalur pantai selatan dimana terdapat jejeran pantai2 yg menarik untuk di Jelajahi. Pantai pertama yg kita datangi adalah.... hehehe, saya gak tahu namanya. Tapi pantai ini berdekatan dengan pantai Indrayanti atau pantai Pulang Syawal, begitu penduduk lokal menyebutnya. Saya memarkirkan motor di pinggir pantai dan langsung menuju pantai tersebut. Suasana pantai sangat sepi dan sunyi. Kami menghirup udara pantai yg segar sambil menikmati pemandangan laut lepas ditemani semilir angin pantai yg sejuk.


pantai tanpa nama



Dari pantai tanpa ini kami menuju satu pantai lagi yg lebih populer yaitu pantai Indrayanti. Letak 2 pantai ini sebenarnya berdekatan karena kanya dipisahkan tebing/bukit besar. Situasi di Pantai Indrayanti lebih ramai karena memang sudah dikelola dengan baik. Kita bisa menemukan gazebo2 di pinggir pantai, kita juga bisa berenang atau menyewa perahu, atau sekedar bermain pasir di pinggir pantai. Di sisi kanan pantai juga ada sebuah bukit yg bisa kita naiki untuk menikmati pemandangan dari atas.


pantai Indrayanti




pemandangan dari atas bukit



senja di pantai selatan Gunungkidul


Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore yg berarti sebentar lagi hari akan gelap. Mengingat perjalanan yg lumayan jauh dan melewati perbukitan dengan jalur naik-turun dan berkelok2, maka saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di jalur Pantai selatan Gunung kidul ini. Sebenernya masih belum puas karena masih banyak pantai2 yg belum kita jelajahi. Mungkin lain kali kami akan kembali lagi kesini untuk menjelajahi pantai2 yg lain. Sekitar pukul 8 kami sampai di Klaten. Karena perut kami sudah laper kamipun mencari makan malam di jalan. Pilihan jatuh kepada kuliner khas Klaten yg lumayan terkenal yg cabangnya sekarang banyak kita jumpai di berbagai daerah termasuk Jakarta dan sekitarnya yaitu Sop ayam Pak Min Klaten. Tapi kali ini kami ingin merasayan ditempat aslinya.



Sop ayam ini sangat sederhana yaitu hanya sop yg berisi daging ayam kampung saja tanpa dicampur sayuran. tapi rasa kuah sop Ayam yg sangat gurih dan pasti bisa menggoyang lidah kalian semua. Kita bisa memilih bermacam2 bagian daging ayam seperti sayap, paha, dada, kepala, ceker, dll dengan harga yg berbeda2. Kami memilih pake daging dada yg merupakan bagian yg paling mahal. Seporsi sop ayam (berisis daging dada) beserta nasi dihargai 17 ribu yg menurut saya masih murah karena dagingnya yg besar dan banyak.


Sop Ayam Pak Min


Setelah menghabiskan 1 mangkok sop ayam, kamipun kembali ke rumah paman kami dan beristirahat untuk kembali melanjutkan penjelajahan kami keesokan harinya.



Meraba Merapi




Setelah keliling2 Jogja dan Gunungkidul di hari2 sebelumnya, Tujuan jalan2 kami hari ini adalah Gunung Merapi. Sebenernya ketika merencanakan trip ini, tidak ada rencana untuk untuk mengunjungi Merapi, tetapi istri saya tiba2 ingin menikmati keindahan Gunung Merapi dan penasaran untuk merasakan Merapi lava tour. Saya pun jadi ikut penasaran, apa lagi paman kita bilang sayang kalo udah ke Jogja tapi gak main ke Merapi. Akhirnya kita memutuskan untuk menjelajah Merapi... yeaayyy!
Pagi itu kami berangkat sekitar jam 6 pagi karena kami ingin mencari sarapan dulu di Klaten. Pagi itu kami mencoba satu kuliner tradisional yg unik dan lezat, namanya nasi tumpang koyor. Nasi tumpang koyor sebenernya adalah kuliner khas daerah Salatiga yg terdiri dari nasi yg diatasnya di’tumpang’i sayuran seperti daun pepaya, kacang panjang, tauge, kemanggi, dll kemudian disiram oleh sambal tumpang dan bumbu lethok (seperti kuah santan berisi tahu) dan yg special adalah koyor atau urat atau sapi dan ditambah sambal tumpang yg khas. Kombinasi rasa dari bahan2 yg berbeda2 itu benar2 memberikan rasa yg segar. Ini salah satu kuliner yg paling menarik dan lezat dalam trip ini.


nasi tumpang koyor yg lezaaatt...



kuliner wajib kalo ke Klaten


Puas menikmati lezatnya Nasi Tumpang koyor, kamipun memulai perjalanan kami ke Merapi melalui jalur Prambanan-Cangkringan-Kaliurang. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan. Udara pagi yg segar dan juga pemandangan persawahan di kiri kanan yg tak kalah segarnya menemani perjalanan kami pagi itu.
Tujuan kami di Merapi nanti sebenernya masih belum jelas karena memang ini adalah pertama kali kami ke Merapi dan juga kami belum punya referensi yg lengkap tentang wisata merapi selain hasil browsing dan baca beberapa RR di POL. Jadi kami seperti meraba-raba tempat2 yg harus kami kunjungi. Ada beberapa tempat yg rencananya akan kami datangi berdasarkan hasil dari penerawangan dunia maya seperti Museum Merapi, Kaliurang, Telaga Putri, dan wisata Lava tour.
Jalan Menuju Gunung Merapi lumayan lancar dengan kondisi jalan yg lumayan mulus dan lebar. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Museum Merapi. Berdasarkan hasil rekomendasi mbah google, Museum Merapi adalah satu tempat yg layak dikunjungi di wilayah Gunung Merapi ini.


jalan menuju Museum Merapi


Museum Merapi, seperti namanya, adalah Museum yg menampilkan berbagai benda2 yg berhubungan dengan Gunung Merapi. Museum Merapi terletak sebelum lokasi wisata Kaliurang. Setelah masuk Jalan Kaliurang, kita bisa menemukan petunjuk arah ke lokasi Museum. Kami tiba di Museum Merapa sekitar jam 9.30. Museum Merapi merupakan museum yg sangat menarik. Hal menarik pertama dari museum ini adalah desain bangunan yg membentuk sudut2 seperti gunung.


bergaya dengan latar belakang Museum Merapi yg berlatar belakang Gunung Merapi


Kemudian didalamnya kita bisa menemukan benda2, dokumentasi, dan informasi yg cukup lengkap yg berhubungan dengan gunung Merapi atau peristiwa erupsi Merapi dan juga gunung berapi secara umum. Museum berlantai 2 ini sangat informatif dan menarik untuk anak2 atau siapa saja yg tertarik dengan sejarah gunung Merapi atau bidang vulkanologi. Untuk masuk ke museum ini, kita harus membayar tiket masuk yg cukup murah yaitu 5 ribu /orang.


Di depan miniatur gunung Merapi di lantai 1 museum




Sebuah lukisan menarik yg menggambarkan hubungan antara Merapi, Keraton, dan Laut Selatan



beberapa sudut di lantai 1



lantai 2



miniatur Merapi dari lt.2



beberapa sudut lantai 2


Setelah puas menikmati museum Merapi, kamipun melanjutkan kegiatan meraba-raba wilayah Merapi ini. Kebetulan tadi di museum ada informasi tentang obyek2 wisata yg bisa kita jumpai di wilayah ini. Tujuan kami berikutnya adalah obyek wisata alam Kaliurang. Obyek wisata ini adalah tipe obyek wisata tempo dulu yg sederhana dan bernuansa alam. Wisata alam Kaliurang sendiri adalah seperti hutan lindung yg terletak di lereng gunung Merapi dan didalamnya terdapat menara pandang dan juga beberapa gua yg dibuat pada pemerintahan Jepang sehingga disebut gua Jepang.


Wisata alam Kaliurang


Di sekitar tempat terdapat beberapa obyek wisata lain yg letaknya berdekatan seperti telaga Putri, taman gardu pandang, gardu pandang Boyong, dan lain2. Dari kaliurang kami lanjut ke wisata gardu pandang Boyong yg terletak tidak jauh (masih di Kaliurang). Sebenernya di wisata alam Kaliurang juga terdapat gardu pandang, tapi viewnya kurang jelas karena tertutup pepohonan yg tinggi dan juga kami sempat ‘diusir’ oleh gerombolan lebah yg sepertinya bersarang disitu.


bersantai dulu menikmati udara segar


Sebenernya di wisata alam Kaliurang juga terdapat gardu pandang, tapi viewnya kurang jelas karena tertutup pepohonan yg tinggi dan juga kami sempat ‘diusir’ oleh gerombolan lebah yg sepertinya bersarang disitu. Di sekitar tempat ini juga terdapat beberapa obyek wisata lain yg letaknya berdekatan seperti telaga Putri, taman gardu pandang, gardu pandang Boyong, dan lain2. Dari kaliurang kami lanjut ke wisata gardu pandang Boyong yg terletak tidak jauh (masih di Kaliurang).


Gardu pandang Boyong (Gambar dari google)



diatas gardu pandang


Dari sini, tujuan kami berikutnya adalah wisata Merapi lava tour. Untuk melihat2 daerah bekas aliran lava, kita harus berpindah ke daerah Kaliadem yg merupakan salah satu daerah yg paling parah terkena aliran lahar/lava dan awan panas dari letusan Gunung Merapi. Dari Kaliurang, kita butuh sekitar 20-30 menit untuk menuju daerah Kaliadem.


di sebuah jembatan menuju Kaliadem


Setelah masuk jalan Kaliadem, kita naik terus sampai bertemu gerbang masuk Taman Nasional Gunung Merapi dimana kita harus membayar tiket masuk sebesar 5 ribu/orang. Di kawasan ini kita bisa melihat sisa2 kedasyatan letusan Gunung Merapi seperti sisa2 Bunker Merapi, beberapa jalur utama aliran lava/lahar seperti Kali opak, kali gendol, Kali kuning, dan juga Desa Kinahrejo yg merupakan dimana sang kuncen Merapi Mbah Maridjan tinggal dan ‘gugur’ dalam menjalankan tugasnya.


setelah pintu masuk

tidak jauh dari pintu masuk, kami diarahkan oleh orang2 yg sepertinya warga sekitar untuk parkir di area parkir yg ada disana. Saya sedikit bingung karena sepertinya lokasi sisa2 letusan Merapi masih terus keatas. Salah seorang dari penjaga yg tadi mengarahkan kami bilang kalo kami bisa meneruskan perjalanan dengan jeep atau menyewa motor trail. Saya bertanya apakah kami tidak boleh terus keatas dengan menggunakan motor kami, dia tidak menjawab dengan langsung tapi secara halus mengisyaratkan kalo orang2 biasanya menggunakan jeep atau menyewa motor trail yg merupakan usaha yg dikelola oleh warga sekitar.

Sebenernya ini agak dilematis buat saya karena tentu sangat repot dan tidak nyaman bagi kami untuk menggunakan motor trail berboncengan, secara badan kami tidak
kecil sedangkan untuk naik jeep rasanya kurang greget karena saya memang ingin merasakan riding di Merapi... dengan motor sendiri. Akhirnya, dengan sedikit galau kamipun mengarahkan motor kami ke area parkir sambil memikirkan langkah selanjutnya.



kawasan parkir


Sampai tempat parkir sayapun memarkirkan motor ketika seorang warga mendekati saya. Dia membawa beberapa lembar kertas yg berisi foto2 tempat2 menarik yg bisa di kunjungi di kawasan gunung Merapi ini. Rupanya dia menawarkan jasa sebagai pemandu wisata untuk mengantar kami ke spot2 menarik di kawasan lava Merapi seperti bunker Kaliadem, desa Kinahrejo, batu alien??, jalur aliran lava, dan lain2. Harga yg ditawarkan berbeda2 tergantung jumlah spot yg ingin dikunjungi. Saya bertanya, apakah bisa membawa motor sendiri dan ternyata dia bilang boleh... yes!! Saya pun setuju untuk diantar mengunjungi semua spot2 yg ada dengan membayar 110 ribu (setelah tawar-menawar dari harga awal 150 rb). Jadi, kalo kalian ingin menjelajah Merapi dengan motor sendiri kalian bisa menyewa tour guide (orang lokal) untuk mengantarkan kalian dan tidak perlu menyewa motor trail kalo memang tidak ingin.

Sehabis istirahat sebentar, kitapun memulai perjalanan kami meraba Merapi diawali dengan mengunjungi Petilasan Mbah Maridjan di desa Kinahrejo. Desa Kinahrejo, yg terletak tidak jauh dari area parkir tadi, adalah desa dimana Mbah Maridjan tinggal dan merupakan salah satu desa yg terkena serangan awan panas sehingga menewaskan puluhan warga termasuk sang kuncen Merapi. Di desa ini kita bisa menemukan sisa2 kedahsyatan letusan terakhir Gunung Merapi di tahun 2010.



Suasana di lokasi bekas Desa Kinahrejo



sisa sisa serangan wedhus gembel


Kondisi desa yg tadinya hancur total pasca erupsi Merapi sekarang sudah diperbaiki walaupun kawasan disekitar rumah mbah Maridjan sekarang dijadikan kawasan untuk para pengunjung yg ingin melihat-lihat. Disini ada sebuah pendopo besar yg dibangun atas sumbangan dari pihak Keraton Jogja. Rumah mbah Maridjan yg hampir rata dengan tanah pun di tutupi oleh semacam atap pendopo.


di depan bekas rumah Mbah Maridjan


“Kehormatan seseorang dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajibannya” begitulah sebuah pesan yg sangat kuat dan bijak dari sang kuncen Merapi yg tidak hanya terucap tapi juga teramalkan. Di desa Kinahrejo ini sekarang tinggal Pak Asih yg adalah putra dari mbah Maridjan dan juga penerus ayahnya sebagai kuncen Merapi.


narsis dulu sebelum menuju bunker Merapi


Dari desa Kinahrejo , Kami melanjutkan Merapi lava tour kami menuju spot berikutnya yaitu bunker Merapi. Dari desa Kinahrejo menuju bunker, jalanan aspal mulai digantikan dengan jalanan berbatu. Semakin dekat ke bunker, jalanan semakin menantang dengan bebatuan yg semakin besar dan tidak rata serta kontur tanah yg naik turun karena memang ini adalah daerah yg tersapu oleh erupsi gunung Merapi.


Jalur berbatu menuju bunker



mountain riding at Merapi


Meski begitu, jalur ini masih mungkin dilalui oleh motor biasa (bukan trail) walaupun tentunya akan lebih asik dan seru kalo mengendarai motor trail. pemandu wisata kami malah dengan mudahnya melalui jalur ini menggunakan motor bebek.




sedikit beroff-road ria


Setelah sedikit beroff-road ria, kamipun tiba di lokasi bunker Kaliadem. Bunker Kaliadem ini dulunya adalah sebuah daerah perbukitan yg hijau sebelum dihantam oleh Wedhus Gembel (luruhan abu vulkanik super panas) dari letusan gunung Merapi di tahun 2006. Ada 2 orang didalam bunker yg menjadi korban dalam tragedi itu.


sampai di parkiran Bunker Kaliadem


Keadaan bunker Kaliadem sekarang sangat berbeda dengan keadaan sebelum letusan. Pepohonan hijau yg dulunya memenuhi kawasan ini sekarang hilang digantikan pasir dan bebatuan sisa2 alirah lahar Merapi.


kondisi bunker Kaliadem sebelum erupsi

Setelah memarkirkan motor kami, kamipun menuju kedalam bunker untuk melihat2 kondisi di dalam bunker dan juga menikmati pemandangan sekitar bunker




kondisi di dalam bunker



pemandangan segar dibagian atas bunker


Setelah memuaskan rata penasaran kami akan keadaan bunker, kamipun beranjak menuju spot berikutnya yaitu Kali Gendol yg merupakan salah satu jalur utama aliran lahar dingin Merapi.


berfoto dengan latar belakang Kali Gendol

Di lokasi ini kta juga bisa menemukan satu batu raksasa yg unik yg disebut batu alien. Disebut batu alien karena kalo kita perhatikan, di satu sisi batu ini terdapat beberapa kontur unik yg menyerupai wajah alien. Batu raksasa ini dibawa oleh aliran lahar sebelum sebelum akhirnya terdampar di sini.


batu alien

Pasca erupsi Merapi Dasar kali Gendol yg dipenuhi pasir vulkanik ditambang secara besar2an sampai akhirnya penambangan liar tersebut dihentikan.


bekas penambangan pasir di Kali Gendol


Dari kali Gendol kami bergerak menuju obyek berikutnya yaitu sebuah bekas rumah yg menjadi saksi dasyatnya letusan Merapi yg dinamai Museum sisa hartaku. Disini kita bisa melihat bekas benda2 rumah tangga yg terkena imbas letusan merapi. Kita juga bisa menemukan kerangka utuh seekor sapi yg juga terkena hantaman awan panas.


sampe di museim sisa hartaku



sisa2 harta


Tujuan berikutnya yg juga merupakan tujuan terakhir dalam Merapi lava tour kali ini adalah Kali kuning yg juga merupakan salah satu jalur aliran lahar dingin Merapi. Di Kali Kuning ini kita bisa menikmati pemandangan hijau dan juga merasakan adrenalin kita meningkat ketika melewati pinggiran tebing di sisi kali kuning dan juga menyebrangi
jembatan Kali Kuning.





































Kali Kuning




melewati jembatan rusak yg ngeri2 sedap



merasakan segarnya air kali



Dan disinilah akhir dari Penjelajahan meraba Merapi. Perjalanan yg sangat mengesankan ditemani oleh pemandu wisata kami yg sangat ramah dan informatif, Kus, begitu namanya. Kalo kalian ada rencana main2 ke Merapi dan ingin memakai jasa beliau, bisa tanya aja yg namanya Kus yg punya anak kembar pasti ketemu (begitu katanya)


dan.... inilah mbak Kus, pemandu kami yg top markotop!


Sekitar jam 3 lebih, dari Kaliadem di lereng Merapi kamipun mengarah turun meninggalkan Gunung Merapi. Rencananya sebelum pulang ke rumah, kami ingin mengunjungi satu lagi obyek wisata yaitu istana Ratu Boko yg terletak tidak jauh dari candi Prambanan. Kami tiba di candi Ratu Boko sekitar jam setengah 5 sore. Untuk masuk ke Istana Ratu Boko kita harus membayar 25 ribu/orang.




Candi Istana Ratu Boko atau disebut juga Kraton Ratu Boko adalah satu Komplek Istana yg sangat luas yg di bangun untuk tujuan Spiritual atau menenangkan. Kami beruntung tiba pada sore hari karena ini adalah waktu yg tepan untuk menikmati Istana Ratu Boko dimana cuacanya tidak terlalu panas dan kita bisa menikmati sunset disini yg cukup indah.






Setelah puas menikmati senja di Ratu Boko, kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang karena memang saya sudah kelelahan setelah tadi menjelajah Merapi dan sedikit ber offroad ria disana. Di dalam perjalanan pulang tidak lupa kami mengisi perut dengan satu kuliner khas lokal yaitu mie godog jawa.... kali ini makannya bener2 di Jawa, bukan di Jakarta dan sekitarnya, hehehe.


mi godog jawa asli di jawa


Kenyang makan mie godog, akhirnya kami pulang ke rumah paman kami di Klaten. Sebelum sampai rumah Paman, kami juga sempat mencoba susu sapi segar khas Boyolali yg banyak dijual di warung2 susu yg ada di pinggir jalan pada malam hari


malem2 minum susu segar hangat... seger banget



Solo riding

Keesokan harinya, Minggu 30 Agustus 2015, tepat satu minggu sudah kita berada di Jawa Tengah untuk menikmati keindahan Jogja dan sekitarnya. Pagi ini kita bangun agak siang karena hari ini kami belum ada jadwal untuk kemana2. Kebetulan juga saya masih berasa pegel2 pada badan saya terutama bagian lengan akibat menjelajah Merapi kemarin. Jadi rencananya hari ini kami akan sedikit beristirahat dan mungkin akan jalan2 ke tempat yg dekat2 saja.
Kami memutuskan kali hari ini kami akan jalan2 ke kota Solo untuk menikmati kota solo dan tentunya beberapa kuliner khas Solo yg sudah terkenal. Sekitar jam 9 pagi kami berangkat dari rumah om kami di Klaten. Hal pertama yg kami lakukan adalah... tentu saja mencari sarapan pagi, hehehe. Pagi itu kami sarapan di satu warung soto yg sudah sangat terkenal di Klaten dan sekitarnya yaitu warung soto seger Mbok Giyem asli Boyolali.



Tempatnya sangat rame yg menandakan kalo makanannya pasti enak. Soto seger sendiri adalah soto bening berisi daging dan sayuran seperti tauge dan ditemani dengan bermacam2 makanan samping seperti gorengan, macam2 sate, dan krupuk. Rasanya kuahnya sendiri tidak terlalu berat dan porsinya juga tidak terlalu besar sehingga terasa segar (seperti namanya) ketika masuk ke perut kita. Harganyapun hanya 7 ribu rupiah seporsi belum termasuk tambahan lainnya.




Selesai sarapan pagi, kamipun meneruskan perjalanan ke Solo, cuaca pagi itu sangat cerah cenderung panas. Memang dalam beberapa hari ini suhu udara lumayan panas karena ini memang puncaknya musim panas. Bahkan suhu pernah mencapai 35 derajat celsius ketika kami di Jogja bbrp hari lalu. Jarak dari Klaten ke Kota Solo tidak terlalu jauh dan memakan waktu sekitar 45 menit.
Sekitar jam 10.30 kami memasuki daerah Kertosuro sebelum Kota Solo.Kami berhenti disini karena ada satu kuliner yg kami incar dan ingin kami nikmati. Tempat makan ini sangat terkenal dan mempunyai cabang dimana2 termasuk di Jakarta dan sekitarnya dan menariknya, hampir semua cabang dari warung makan ini selalu mencantumkan kata ‘ASLI’ di namanya. Tempat makan yg kita maksud adalah Bebek goreng H. Slamet.... (asli) :P Nah, hari ini kami akan mencoba makan ditempat aslinya, yg bener2 asli... bukan cabang, tapi dipusatnya yg berlokasi di Kertosuro, Solo.


bebek goreng H. Slamet yg asli seasli2nya!



suasana didalam rumah makan


Harga 1 porsi bebek termasuk nasi, lalapan dan sambal disini cukup murah, yaitu 21 ribu. rasanya benar2 mantab. bebek gorengnya yg gurih dan lembut dan tentu saja sambel koreknya yg terkenal benar2 menggoyang lidah.


bebek goreng dan sambel koreknya bener2 juara!


Dari warung bebek goreng H. Slamet, kami meneruskan perjalanan kami ke kota Solo. Rencananya di Kota Solo kami akan keliling2 sambil menikmati kuliner2 khas Solo lainnya seperti timlo, Selat Solo, dan lain2. Tempat pertama yg kami mampiri di kota solo adalah Taman Sriwedari.



Setelah melihat2 sebentar kamipun melanjutkan ke tujuan berikutnya tempat pilihan istri saya yaitu Pasar Klewer. Pasar Klewer yg kami kunjungi ini sebenarnya adalah Pasar sementara yg dibangun di alun2 utara karena bangunan pasar Klewer yg asli sedang dibangun menyusul kebakaran hebat yg terjadi akhir tahun lalu. Di pasar klewer, istri sana membeli beberapa potong pakaian batik buat oleh2 dan juga pribadi. Selesai berbelanja kamipun melanjutkan jalan2 kami di kota Solo.


shopping time!

Dari pasar Klewer kami menuju keraton Solo/Surakarta. Kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Keraton karena entah kenapa, kami merasa kurang tertarik. Mungkin lain kali kami ke Solo kami akan melihat2 Keraton Solo. Dari Keraton, perhentian kami berikutnya adalah warung yg menyajikan satu makanan khas Solo yaitu warung Selat Solo Mbak Lies.



suasana didalam warung yg unik


Selat Solo sendiri adalah satu kuliner yg cukup unik. Dari namanya, sepertinya makanan ini adalah kuliner tradisional yg diadaptasi dari makanan barat yaitu salad. Saya menduga bahwa Selat Solo adalah interpretasi orang Solo atas Salad dengan adaptasi citarasa lokal. Selat Solo adalah makanan yg terdiri dari campuran sayuran dan daging ditambah dengan mayonais dan elemen2 tambahan khas lokal yaitu telur pindang dan semacam kuah yg agak manis. Buat saya, rasa dari Selat Solo ini agak aneh di lidah saya karena saya merasa perpaduan bahan2 yg tidak biasa.


'salad' solo

Dari warung Selat Solo mbak Lies, kami melanjutkan perjalanan kami menuju spot kuliner berikutnya... ya, kami akan makan lagi, hehehe. Target kami berikutnya adalah satu lagi kuliner khas solo yaitu timlo. Kami menuju satu warung timlo yg sangat terkenal di kota Solo yaitu warung timlo Sastro yg berlokasi di dekat Pasar Gede. Sayangnya ketika kami tiba disana warungnya baru saja tutup padahal hari itu masih sore. Karena kami sudah agak lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Klaten. Begitulah akhir perjalanan kami di kota Solo.