Rayuan Teluk Kiluan; Famgath Barat Prides 2017








Jumat, 21 April 2017, 08.00

Pagi hari, hati sudah riang gembira karena hari ini saya akan liburan bersama istri tercinta. Perjalanan kali ini adalah untuk mengikuti acara Family Gathering Prides wilayah barat yg diadakan di teluk Kiluan, Lampung. Selain itu, perjalanan ini juga bisa dibilang perjalanan pulang kampung buat istri saya karena kebetulan keluarga istri berasal dari Lampung.. Ini adalah pertama kalinya saya ikut acara famgath Prides dan juga pertama kalinya saya jalan2 ke Kiluan.


si hitam sudah siap mengantar kami berdua

Sekitar pukul 8 pagi, setelah sarapan dirumah, saya beserta istripun meninggalkan rumah kami di Jatiasih. Rencananya kami akan menyebrang ke Lampung melalui Merak. Dapet info kalo ada bbrp teman2 yg akan naik kapal dari Tanjung Priok. Berhubung istri saya gak kuat lama2 di kapal, akhirnya kita memutuskan untuk naik kapal dari Merak.


kondisi jalan Daan Mogot yg ramai lancar

Dari Jatiasih, saya mengarahkan motor menuju BKT kemudian lanjut kearah Jakarta-Tangerang melalui Daan Mogot. Dari Daan Mogot saya cek gmap untuk liat kondisi jalur ke Merak. Oleh gmap, kami disarankan untuk lewat jalur Tangerang utara via Kotabumi-Mauk-Tanara sebagai jalur tercepat. Karena belom pernah lewat jalur situ dan penasaran pengen tahu, akhirnya kita memilih untuk mengikuti saran google map. Dari Kotabumi kondisi lalu lintas sedikit ramai tapi masih cukup lancar. Memasuki daerah Mauk, lalu lintas cukup sepi dan lancar. lewat Mauk dan Tanjung Kait, kita masuk ke daerah Tanara dengan jalanan beton yg dihiasi oleh persawahan di kiri kanan kita.


Jalur utara Tangerang yg sepi

masuk daerah sini, Lalu lintasnya sangat sepi hampir tidak ada mobil atau truk2, sangat berbeda dengan jalur utama via Balaraja-Serang. Jalanan betonnya pun lumayan bagus walaupun ada kerusakan di bbrp bagian tapi tidak terlalu mengganggu. Pantas saja gmap menyarankan jalur ini. Kalo dari perhitungan gmap, kita bisa menghemat 45 menit jika lewat jalur ini. Jadi menurut saya, ini adalah jalur alternatif yg lumayan rekomended kalau kita mau menuju merak dari Jakarta. Walaupun saya tidak tahu kondisi keamanannya di malam hari karena jalannya lumayan sepi dan dibbrp bagian, jarang ada rumah2 hanya ada persawahan di kiri-kanan jalan.


persawahan di kiri kanan



sedikit rusak di beberapa bagian


Dari Tanara, kita akan melewati Masjid Agung Banten. Sebenernya pengen mampir, tapi karena sudah agak sore, dan kami mengejar waktu supaya tidak kemaleman sampe di Bakauheni akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Dari Masjid Agung Banten kami belok kiri ke arah selatan dan masuk ke jalur utama di Jalan Raya Serang sebelum kota Cilegon. Akhirnya saya sampai di Pelabuhan Merak sekitar jam 3 sore. Langsung menuju loket tiket dan membeli tiket seharga 45 rb untuk motor berikut penumpangnya (termasuk boncenger) murah juga ya…



kita langsung naik ke kapal melalui dermaga 3. Kapal yg kami naiki namanya Port Link yg merupakan kapal yg cukup baru dan bagus. Kapalnya sangat besar. Interior di dalam kapal membuat kami terkagum2 karena sangat lengkap dan modern. Ruangan utama berbentuk seperti restoran yg sangat luas dengan kursi2 dan sofa2 lengkap dengan bar untuk snack dan juga bagian dimana penumpang bisa berbaring untuk beriatirahat. Di lantai atas terdapat ruang vip dengan hiburan musik live, ada juga ruang bermain anak, dan penyewaan playstation. Dan ada juga ruang cinema seperti bioskop kecil dimana penumpang harus membayar 10rb untuk masuk. Selain ruang cinema, semua fasilitas yg ada dikapal bisa dinikmati dengan gratis. Andaikan semua armada ferry penyebrangan seperti ini dan andaikan fasilitas di atas kapal bisa terjaga dengan baik, pasti penyebrangan dari Merak ke Bakauheni bisa jadi pengalaman yg nyaman dan menyenangkan bagi kita semua.


suasana diatas kapal Port Link





jalan-jan sekalian pulang kampung



ada bioskopnya!

Sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai di Pelabuhan Bakauheni sekitar jam 5.30 sore. Sebelum turun dari kapal, Sempat disuguhkan pemandangan menarik senja di Bakauheni dari atas kapal.


narsis dulu sambil menikmati angin laut



mantaabb!



senja di Bakauheni

Dari Pelabuhan Bakauheni, saya langsung tancap gas menuju Bandar Lampung. Rencananya malam ini kami akan menginap dirumah paman istri saya di daerah Way Halim, Bandar lampung. Dari Bakauheni, jalanan lumayan bagus dan lalu lintas juga sangat lancar. Sempat menemui jalanan yg agak rusak penuh tambalan sebelum Kalianda, tapi masih mending daripada jalanan berlubang. Sekitar waktu magrib, kami sampe diKalianda. Sempat berhenti sebentar untuk beristirahat.

lalu lintas sore itu dari bakauheni yg tidak terlalu ramai



hari mulai gelap




Hari mulai gelap ketika kami melanjutkan perjalanan dari Kalianda. Kondisi jalanan yg agak gelap tanpa lampu jalanan sempat membuat kami kerepotan karena lampu motor saya yg masih standar tidak bisa menerangi jalan dengan maksimal. Untungnya kondisi lalu lintas agak ramai jadi bisa memanfaatkan lampu kendaraan lain sebagai penerangan tambahan. Selepas Kalianda, jalanan lumayan mulus. Kami memacu motor mengikuti dibelakang mobil2 yg melintas.

lalu lintas lumayan ramai



ikut di belakang mobil

Sekitar jam 8 malam kami sampai di Bandar Lampung. Karena kami sudah lapar, kami memutuskan untuk mencari makan malam sebelum ke rumah paman kami di daerah Way Halim. Setelah mutar2 di daerah Way Halim yg kebetulan adalah daerah Kuliner, kami memutuskan untuk makan malam di warung Ikan Bakar Gembul yg katanya lumayan enak dan murah.


beristirahat di Minimarket




ridernya ngisi tengki dulu



mari kita sikaaatt....

Setelah kenyang makan ikan bakar dan udang saos asam manis, kamipun lanjut menuju rumah paman istri saya. Setelah sempat muter2 sebentar, akhirnya kami berhasil menemukan rumahnya. Kami disambut oleh tante kami dan setelah ngobrol2 sebentar akhirnya kami beristirahat karena sudah lumayan lelah dan besok kami akan berangkat ke Kiluan! Yeaayy!


Road to Kiluan

Keesokan harinya, kamipun bersiap untuk berangkat ke Kiluan. Dapet kabar dari grup WA kalo temen2 yg berangkat dari bengkel Genetic Moto tadi malem sudah otw dari Bakauheni menuju Kiluan. Sekitar jam 7 pagi, kami berangkat dari rumah paman kami. Menurut Google map, perjalanan ke Kiluan akan memakan waktu sekitar 3 jam dari Bandar Lampung, berarti sekitar 4-5 jam dengan kecepatan riding kami yang lelet, hehehe.



Dapet info di grup dari om Suraji kalo ada tempat wisata menarik di jalur menuju Kiluan. Tempatnya namanya Muncak di daerah Pesawaran. Dari tempat ini kita bisa melihat pemandangan laut dari atas bukit. Berhubung hari masih pagi, maka kami memutuskan untuk mengunjungi tempat ini. Sekitar 30 menit dari bandar Lampung, kami sampai di daerah Pesawaran dimana kita bisa menemukan petunjuk ke arah tempat tersebut. Dipapan petunjuknya tertulis ‘Muncak Teropong Laut’. nama yg menarik, pikir kami… dari persimpangan papan petunjuk, kami belok kanan. Setelah beberapa ratus meter jalanan mulai menanjak. Semakin lama jalan semakin menanjak dan kondisi jalan cukup rusak.


jalan menuju Muncak






Bahkan ada satu ruas jalan yg tidak beraspal (gravel) untungnya hanya sekitar 200 meteran. Akhirnya setelah sekitar 30 menitan menanjak, kamipun sampai di spot bukit Muncak dimana terdapat warung dan tempat parkir. Suasana pagi itu cukup sepi karena memang baru jam 8 pagi. Dari spot di Muncak ini, kita bisa melihat pemandangan Teluk Betung dibawah bukit di depan kita. Pemandangannya cukup indah dan mengagumkan. Sebenernya ada spot yg lebih bagus di dekat situ, tapi karena untuk menuju kesana kita harus trekking dulu, maka kami cukup menikmati pemandangan dari spot ini.


pemandangan dari atas bukit Muncak



narsis dulu dengan latar belakang Teluk Betung






Setelah puas ‘meneropong’ laut dan menikmati pemandangan Teluk Betung, kamipun melanjutkan perjalanan ke Kiluan. Dari Pesawaran, kami melanjutkan perjalanan. Di Bukit Ketapang, saya melihat rombongan pulsar parkir dipinggir jalan. Sayapun meminggirkan motor. Ternyata mereka adalah rombongan om Welex dan kawan2. Akhirnya kami gabung bareng mereka.


ketemu dengan rombongan di bukit Ketapang


Dari Bukit ketapang kami melanjutkan perjalanan menuju ke teluk Kiluan beriringan. Dari Bukit Ketapang menuju ke Kiluan kondisi jalan standar (dengan lubang disana sini… hehehe) kami melewati beberapa pantai Wisata seperti Pantai Klara dan Marines Eco Park yg ada di dalam kawasan TNI AL.

Pantai Klara




Kami melewati daerah Way Ratay kemudian Padang Cermin. Kami juga melewati satu daerah dimana rumah2 penduduknya masih berbentuk rumah tradisional Lampung yg bentuknya rumah panggung dari kayu, sebuah pemandangan menarik yg jarang kami temui.

jejeran rumah tradisional khas Lampung


Rumah tradisional Lampung

Sekitar 15 km menuju teluk Kiluan, jalanan aspal digantikan dengan jalanan batu. Semakin lama jalanan semakin hancur dengan batu2 yg longgar dan licin ditambah dengan jalur yg menanjak semakin menyulitkan kami.

tantangan dimulai



masih enak karena batu2nya masih padat

Saya sendiri hampir jatuh ketika melalui sebuah tanjakan karena roda motor saya tergelincir sehingga saya secara reflek mengerem dan mengakibatkan motor berhenti dan kehilangan momentum. Karena kehilangan momentum dan beban yg berat, motor pun merosot mundur ke belakang. Saya hanya bisa menahan motor yg terus merosot (dikarenakan batu2 yg tidak padat) sambil bersiap2 untuk jatuh. Untungnya om amin yg dibonceng oleh om tatang yg berada tepat di belakang saya dengan sigap melompat dari motor dan langsung menahan motor dari belakang. Saya dan istri merasa sangat lega karena motor akhirnya berhenti dan kami tidak sampai jatuh. Terima kasih buat om amin yg sudah menyelamatkan kami…

makin keatas makin menantang

Setelah menenangkan diri, sayapun melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati2. Akhirnya, setelah sekitar 500 meter melalui ujian jalanan hancur, kami bisa sedikit bernapas lega karena kondisi jalan berangsur membaik, walaupun tidak bisa dibilang bagus. Tidak jauh dari jalanan batu tadi, kami dihadapkan oleh sebuah tanjakan panjang yang sangat curam… saya sepertinya nyerah kalo harus menaiki tanjakan tersebut, apalagi dengan kondisi jalan seperti itu. Untungnya saya di beritahu kalo kita tidak akan lewat situ… aahhh, lega sekali hati ini mendengar berita gembira tersebut. Di sebelah kiri jalan, ternyata terdapat sebuah gapura yg merupakan pintu masuk kawasan teluk kiluan. Gapura yg biasanya dijadikan tempat narsis para biker yg mengunjungi Kiluan. Tentu saja kami juga tidak melewatkan kesempatan untuk bernarsis ria di depan gapura yg harus dicapai melalui perjuangan yg cukup sulit.




akhirnya sampe juga disini!

Setelah puas berfoto2, kamipun turun kebawah ke kawasan teluk Kiluan. Jalan dari gapura merupakan jalanan beton yg cukup mulus. Sampe ke bawah, kami melewati perkampungan warga. Yg menarik adalah kami melewati daerah yg sepertinya adalah kampung Bali karena kami bisa melihat ornamen2 khas Bali di tiap2 rumah dan juga beberapa bangunan Pura.


jalan beton setelah gapura Kiluan



Kiluan, here I come!



kampung Bali



bangunan Pura

Sempat juga melewati jembatan rusak yg ditambal dengan kayu2. Setelah sekitar 15 menit dari gapura, kamipun tiba di rumah Pak Maimun, sang pemilik villa sekitar jam 1 siang. Dari sini rencananya kami akan menyebrang ke Villa di ujung pulau dengan menggunakan perahu.


melewati jembatan rusak




Kami beristirahat di rumah Pak Maimun dan juga menyempatkan makan siang sebelum menyebrang ke penginapan. Sekitar jam 3 sore, kamipun menyebrang ke Villa maimun yg terletak di ujung teluk Kiluan. Perjalanan menyebrang ke villa hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit karena memang jaraknya sangat dekat.


menyebrang ke Villa



Keseruan di Kiluan


rayuan pulau kelapa...

Sampai di penginapan, kamipun langsung membereskan barang barang kami. Di Villa Maimun ini ada 4 buah bangunan bungalow yg terbuat dari kayu. 2 bangunan dengan 3 kamar tidur dan kamar mandi, 2 bangunan berisi 2 kamar tidur. Kamipun langsung memilih kamar tempat menginap. Om boring langsung mendirikan tenda di tanah lapang yg ada di depan bungalow.


Bungalow2 di villa Maimun



bang Boring sedang mendirikan tenda




Setelah selesai beberes kamipun bersantai sambil menikmati pemandangan pantai di depan penginapan. Om Ook dan pasangannya bermain pasir dipantai. Om Boring bahkan langsung nyebur ke laut diikuti oleh om yudi, tatang, dll.


santai di pantai



mandi sore di laut

Btw, kita juga masih menunggu rombongan lain yg masih otw. Ada om dono dkk. Yg naik kapal via Tj. Priok-Panjang, ada juga rombongan mobil yaitu om Mbon, Marlin dan pasangannya dan juga om Mike dan keluarga. Ada juga rombongan dari chapter Palembang yg katanya masih otw. Oh iya, ada satu hal yg menarik… rencananya om Mbon dan calonnya akan sekalian melakukan sesi foto Pre-wedding dengan Om Marlin sebagai fotografernya. Selamat ya om Mbon… mudah2an lancar sampai ke pelaminan .

Sekitar jam 5 sore, rombongan mobil dan motor susulan sampe di villa. Ada om mike bersama istri dan anaknya gavin, ada om herry juga bersama anaknya Zahfa, ada om rangs, om suraji, om dono, dan juga om mbon dan Marlin bersama pasangannya dan juga om welex & ojan. Beberapa langsung mendirikan tenda dan yg lain mencari kamar. Setelah beres beberes… teman2 langsung menuju ke pantai untuk menikmati semilir angin laut sambil bermain air. Gavin, putra dari om Mike, yg begitu datang langsung ganti pakaian renang, tanpa basa basi langsung lari ke pantai dan nyebur ke air.


langsung bermain air



om mike dan istri sedang mengawasi gavin berenang

Dari pantai di villa Maimun ini, sebenernya kita bisa mlihat pemandangan sunset di teluk Kiluan, sayangnya langit sore itu berawan sehingga menutupi sunset yg dinanti.


sore yang indah di kiluan, walau tanpa sunset

Sekitar jam 7 malam, kamipun bersiap untuk makan malam yg sudah disiapkan oleh pemilik villa. Btw, untuk acara famgath kali ini kami cukup membayar 150rb/orang rupiah yg merupakan harga yg sangat murah karena biaya tersebut sudah mencakup biaya penginapan, perahu penyebrangan, dan makan 3x, plus merchandise berupa senter kecil dan juga door prize kalau.anda beruntung. Terima kasih buat om Welex dan om Ojan selaku panitia untuk tenaga dan pikiran yg diluangkan demi kesuksesan acara famgath barat Prides 2017 ini.


waktunya makan!!

Kelar makan malam, acara dilanjutkan dengan acara api unggun dan ramah tamah. Beberapa kawan2 yg ada yg beristirahat karena sudah lelah riding seharian. Saya sendiri ngobrol dengan teman2 di depan api unggun. Akhirnya Sekitar jam 10, saya pamit beristirahat karena memang sudah capek dan ngantuk.


api unggun

Rencananya besok pagi kami akan melihat lumba2 yg merupakan daya tarik wisata teluk Kiluan ini. Untuk melihat lumba2 kita harus menyewa kapal jukung bermotor dengan biaya 100 rb per orang. Sehabis liat lumba2, rencananya akan ada games2 dari panitia buat para peserta famgath.


om herry dan zahfa bermain air di pagi hari

Keesokan paginya, sekitar jam setengah 6 pagi, rombongan chapter Palembang tiba di Villa. Menurut info dari mereka, ternyata mereka tiba di rumah pak Maimun jam setengah 2 malam dan memutuskan untuk beristirahat disana dulu. sekitar jam 6 pagi kami bersiap2 untuk melihat lumba2. Menurut keterangan warga setempat, si lumba2 biasanya paling mudah dijumpai dipagi hari sekitar jam 6 sampai jam 9 pagi karena itu adalah jadwal mereka mencari makan. kita bisa menjumpai mereka di perairan lepas, tidak jauh dari teluk Kiluan. Untuk melihat lumba2, kita akan naik perahu jukung bermotor dengan 3 penumpang per perahu plus tukang kapalnya. Saya dan dan istri bareng 1 perahu dengan Zahfa, anaknya om herry.

berangkat untuk ketemu dengan si lumba-lumba

Sekitar jam setengah 7 kamipun berangkat dari penginapan dengan perahu yg sudah di sewa menuju keluar teluk. Perjalanan makan waktu sekitar 20-30 menitan. Ada banyak perahu2 lain yg dinaiki para pengunjung lain yg juga berangkat bersamaan. Puluhan perahu seperti berjalan beriringan untuk mengejar lumba2.
let's goo...


para pemburu lumba-lumba


Zahfa mau ketemu lumba-lumba





Sekitar setengah jam membelah ombak, kami sampai di spot dimana kawanan lumba2 biasanya muncul. Sudah banyak perahu2 lain yg ‘stand by’ di lokasi. Tiba2 tukang perahu saya menunjuk kearah di depan perahu kami dan bilang “itu pak, lumba2nya”. Dan benar saja, didepan perahu kami, tepatnya disamping perahu yg dinaiki om rahmat dan istri serta om herry, sekawanan lumba2 berenang di permukaan air.





Kami senang sekali karena akhirnya bisa melihat sang ‘primadona’ teluk kiluan ini. Lebih senangnya lagi bahwa kami bisa melihat mahluk yg menawan ini ditempat yg seharusnya… di alam bebas… Bukan ditempat sirkus atau di akuarium dimana mereka mejadi binatang ‘tangkapan’. Si Tukang perahu mengarahkan perahu kami kearah kawanan lumba2 yg sedang berenang itu. begitu pula perahu2 lain, mereka langsung berbondong2 mengejar si lumba2. Mungkin karena mendengar deru mesin perahu, kawanan lumba2 itu pun menghilang menyelam kedalam air.



Proses ‘perburuan’ lumba2 dalam bbrp waktu kedepan berlangsung seperti itu. Jadi kita melihat kawanan lumba2 itu muncul beberapa di spot yg berbeda2 kemudian perahu2 para ‘pemburu’ lumba2 berbondong2 datang mendekat, kemudian mereka pun menghilang kedalam air.



Setelah sekitar 1 jam lebih kita bermain kejar2an dengan si lumba2, akhirnya mereka menghilang tidak muncul2 lagi. mungkin mereka sudah bosan atau sudah waktunya pulang kerumah. Kamipun akhirnya kembali ke penginapan dengan rasa puas.



Sampai di Villa Maimun, ternyata sarapan pagi sudah siap… wah, kebetulan sekali perut sudah lapar. Kamipun langsung sarapan dengan menu nasi uduk telor plus gorengan dan krupuk.

sarapan dulu

Kelar sarapan, kamipun kembali bersantai menikmati keindahan alam. ada yg berenang dipantai, ada yg duduk2 menikmati pemandangan dan semilir angin laut, ada yg hammock-an, pokoknya semua menikmati hidup

mandi pagi dulu, hehehe



Zahfa jadi putri duyung



Gavin yg gak ada capeknya



Zahfa & gavin yg gak mau lepas dari air



om Dono sedang menikmati hidup...





calon pengantin, Om Mbon dan Mbak Resta bersiap untuk sesi foto pre-wed... so sweeet...

Sekitar jam 9, om Welex dan om Ojan selaku panitia mengumumkan kalo akan ada lomba bagi para peserta famgath. Lombanya cukup menarik karena mempunyai tema ‘green’. kami harus bekerja berpasangan dan om welex membagikan kantong plastik besar kepada masing2 pasangan. Ternyata lombanya adalah lomba memungut sampah… whaaattt? Jauh jauh kita nyebrang pulau ternyata disuruh mungutin sampah… tega bener deh nih panitianya, hahaha.



Tapi menurut saya ide lombanya sangat bagus. Selain menarik, tentu lomba ini juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kami harus mengumpulkan sampah non-organik seperti plastik, botol bekas, karet, dll yg ada di sekitar penginapan dan pantai. Para peserta lomba terlihat bersemangat mengumpulkan sampah2 yg ada di sekitar. Setelah tadi pagi kami berburu lumba2, sekarang kami ‘berburu’ sampah, hehehe.


om Boring and om Suraji dengan kantong plastik yg penuh



om Rachmat dan istri



om Cemonk dari Palembang






Sekitar satu jam lebih para peserta ber’gerilya’ mencari sampah akhirnya semua pasangan kembali dengan kantong plastik yg rata2 sudah penuh dgn sampah. Lumayanlah... selain bersenang2, kami juga berbuat sesuatu yg ada manfaatnya walaupun tidak besar. Setidaknya ini seperti ‘give back to nature’ yg telah berbaik hati kepada kita.


hasil berburu sampah

Setelah semua pasangan selesai, panitia meminta kita untuk berkumpul dengan membawa kantong plastik sampah masing2. Acara Lomba dilanjutkan dengan melibatkan sampah yg sudah kita kumpulkan. Pertama2, semua peserta harus menunjukan kepada juri satu buah sampah yg paling besar diantara sampah2 yg sudah kita kumpulkan. Alhasil kami harus mengorek2 sampah kami untuk mencari sampah yg paling besar. Seumur2, baru kali ini saya ngorek2 sampah… bener2 ye nih panitianya, hihihi.


'dikerjain' ama panitia.... wkwkwk

Akhirnya para peserta menunjukkan punyanya (sampah maksudnya… wkwkwk) masing2. Ada sepatu, sendal, bungkus snack, dll… pokoknya macem2. Dan setelah berunding, juri memutuskan bahwa pemenangnya adalah pasangan om boring dan suraji dengan sampah bola plastik. Kategori berikutnya ada sampah terkecil dan terunik yg dimenangkan oleh mbak niken dengan sampah… struk atm, hehehe… soalnya menurut sang juri, pak Maimun si pemilik villa, itu adalah sampah yg paling gak umum secara kita ada ditengah pulau. Para pemenang mendapatkan hadiah jas hujan Rainsol dari sponsor.



Di kategori terakhir, yg juga paling menarik, para peserta harus membuat sesuatu yg berguna/berfungsi dari limbah sampah yg sudah mereka kumpulkan, jadi idenya seperti proses recycle. Para peserta diberi waktu 1 jam dan mereka harus menggunakan kreatifitas mereka dalam ‘mendaur ulang’ sampah menjadi sesuatu benda yg bisa dipakai, atau mempunyai fungsi.

om Ook dan Istri sedang membuat prakarya



sedang mencari inspirasi



bekerja sama membuat prakarya





tersangka pembuat bom molotov.... hahaha



menyalurkan kreatifitas

Para peserta sibuk memutar otak untuk menciptakan sesuatu dari sampah yg mereka punya. Setelah sekitar 1 jam, akhirnya semua peserta selesai dengan ‘mahakarya’ mereka. Hasilnya cukup unik dan menarik… ada om suraji & boring yg membuat sandal dari botol plastik, ada om Ook dan pasangan yg membuat pot tanaman juga dari botol plastik, ada om louis yg memanfaatkan botol bekas menjadi… bom molotov! Entah apa yg ada di pikiran dia ketika bikin… tapi setidaknya itu memang benda yg berfungsi, hehehe. Ada juga om chemonk dari Palembang dan partnernya yg membuat hiasan/mainan kapal layar dari bermacam2 limbah… semuanya menarik dan unik.

dan... inilah hasil kreativitas para peserta lomba

Akhirnya setelah juri berunding, maka diputuskan pemenangnya adalah om chemonk dan temannya dengan hiasan perahu layar. Alasan juri (yg kebetulan adalah om rahmat, saya, dan mbak niken) adalah karena paling detail, kreatif dan yg paling penting adalah paling banyak menggunakan limbah sampah, jadi sangat ‘ramah lingkungan’ sekali. Pemenang kategori utama ini mendapatkan tas waterproof dari rainsol selaku salah satu sponsor acara famgath prides ini.

ketua panitia dan karya pemenang lomba

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan lomba2 lainnya seperti lomba memasukkan benang kedalam jarum, lomba mengikat kabel, dan lain2. Para peserta bersemangat dalam mengikuti lomba.
Sekitar jam 12 siang, makan siang sudah disiapkan dan kamipun lanjut makan siang. Setelah makan siang, panitia mengumumkan supaya kami berkemas untuk pulang. Acara Famgath Barat Prides ditutup dengan foto bareng yg diambil oleh fotografer handal, siapa lagi kalo bukan om Marlin. Akhirnya setelah selesai sesi foto bareng, kamipun menyebrang ke rumah Pak Maimun untuk selanjutnya pulang ke rumah masing2.

foto bersama hasil jepretan om Marlin

Sekitar jam 3 sore, kami meninggalkan rumah pak Maimun. Rencananya saya dan istri akan kembali menginap dirumah om kami di Bandar lampung. Sedangkan teman2 akan langsung kembali ke Jakarta kecuali om Rahmat yg rencananya juga akan ke Bandar Lampung ke tempat saudara. Dari Kiluan ke Bandar Lampung perjalanan cukup lancar. Walaupun mobil om Mbon sempat mengalami masalah dengan kampas remnya, tetapi untungnya berhasil diatasi sendiri.

om Dono sedang berjuang menuruni jalanan berbatu



om Herry bersiap melewati tantangan


Kami berpencar ditengah jalan karena tujuannya berbeda2. ada yg Langsung ke Pelabuhan Panjang, ada yg ke Bakauheni, saya sendiri bersama istri akan ke Bandar Lampung. Sebelum pulang, saya dan teman2 tidak lupa menikmati satu kuliner yg sangat terkenal di Lampung yaitu bakso Sonny Son Haji. Dari grup WA saya dapet info kalo temen2 makan bakso sonny di tempat yg berbeda2 karena memang Bakso sonny ini punya banyak cabang. Setelah puas makan bakso sonny yg memang enak sekali rasanya, saya dan istri lanjut ke kediaman paman untuk menginap sebelum besok pagi kembali ke Bekasi

perjalanan kembali ke tanah Jawa

Kesokan harinya, kami berangkat dari rumah paman kami jam 8.30 pagi. Perjalanan ke pelabuhan Bakauheni sangat lancar. Sekitar jam 12 siang kami sudah ada di kapal menuju Merak. Sekitar jam 2 kami sampai di Merak. Sampai Merak, saya menghubungi om Askhar karena inget waktu berangkat disuruh mampir di Jangkar barat Prides di wilayah Serang. Kami Janjian di Masjid agung Cilegon. Karena kita sudah lapar dan istri saya pengen makan sate bebek langganan (kebetulan istri punya tante di Cilegon), akhirnya kami makan sate bebek dulu di warung sate Asmawi di kota Cilegon. Saya juga kontak om Viwi karena nanti rencananya mau ke warungnya on Viwi. Akhirnya om Askhar menjemput kami di warung sate dan kami meluncur ke kedai om Viwi bersama2.


mampir di kedai om Viwi



kopcol bareng anak2 Prics

Di Kedai Viwi, kami ketemu kawan2 dari Prides chapter Serang seperti om Viwi sebagai tuan rumah, om Ilham, dan om Ato. Kami ngobrol2 sambil menikmati hidangan yg disajikan oleh om Viwi. Sekitar jam 5 sore, saya pamit karena masih harus meneruskan perjalanan ke Bekasi. Dari Cilegon, kami lanjut menuju Bekasi via Serang-Balaraja-Tangerang. Jalanan di sepanjang jalur Serang-Balaraja agak rusak dengan lubang2 di tengah jalan. Setelah lewat Jatake, jalanan mulai membaik. Sempat mampir ketempat mertua di Thamrin untuk mengantarkan oleh2. Sekitar jam 10 malam, Akhirnya kami sampai di rumah kami di Jatiasih, Bekasi dengan selamat.

Begitulah pengalaman kami dan istri mengikuti acara Family Gathering Prides wilayah Barat. Senang rasanya bisa jalan2 menikmati keindahan alam negeri tercinta sekaligus bertemu teman2 baru maupun lama. Terima kasih buat om Welex dan om Ojan selaku panitia yg sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk mewujudkan acaranya. Terima kasih juga buat teman2 Priderianyg ikut dalam acara. Dan juga buat teman2 Prics… om Ashkar, om Viwi, Om Ilham, dan om Ato atas jamuan dan keramahannya. Sampai ketemu di Jamnas 9 Bi9nine!